Ada selembar daun gugur terbang di atas jalanan padat yang dilalui Mira
sore ini. Daun kecoklatan itu melayang pelan dihembus angin yang tak
terlalu kencang. Mira tersenyum. Semua akan baik-baik saja.
Mira menghela napas perlahan dan menatap selembar daun kering lain yang
sedang menari di atas kendaaraan di depannya. Sungguh pemandangan yang
selalu disukainya. Daun-daun yang melepaskan diri dari ujung-ujung
ranting. Mereka seakan sedang menarikan tarian yang begitu cantik.
Tarian kebebasan.
Ya, semua akan baik-baik saja.
Ada test-pack yang baru saja ia beli di dalam tasnya. Tak lama lagi ia segera akan tiba di rumah dan segala kekhawatirannya akan sirna.
Semua akan baik-baik saja.
----
Ketika Gun tiba, Mira masih terbaring di tempat tidurnya. Entah sudah
berapa jam ia di sana, tergolek dengan mata menerawang dalam gelap.
Kedua matanya sembab dan basah. Kenapa ini bisa terjadi?
Langkah kaki Gun terdengar mendekat. Lelaki yang dicintainya.
“Yang, aku pulang. Kamu sudah tidur, ya?”
Gun membuka pintu dan menyalakan lampu. Cahaya menerangi kamar itu dan Gun merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.
“Sudah malam begini, kenapa jendela masih terbuka?” tanya Gun heran.
Dilihatnya Mira masih mengenakan pakaian kerjanya, berbaring di atas
tempat tidur dengan mata merah dan rambut yang kusut. “Mir, kamu
kenapa?” Gun duduk di sisi tempat tidur dan mengulurkan tangannya ke
wajah Mira. “Kamu sakit, Mir?”
Mira mengerjapkan matanya yang terasa perih. Ia menggeleng. Tangannya
lemah mengulurkan sebuah strip kecil berwarna putih kepada Gun.
“Apa ini?”
“Test-pack, Gun. Aku sudah terlambat dua minggu.”
Gun memandang strip putih itu. Ini adalah pertama kalinya ia melihat secara langsung benda yang dinamakan test-pack itu. Gun tidak mengerti. Ia tidak bisa mencerna apa yang telah terjadi.
“Positif, Gun. Aku hamil,” tangis Mira kembali meledak.
Gun terpana. “Bagaimana bisa, Mir?”
Mira menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, Gun.”
----
Sekilas Gun memalingkan wajahnya dari depan kemudi dan memandang Mira
yang duduk di sebelahnya. Sudah hampir setengah jam hanya keheningan
yang berada di antara mereka berdua. Dilihatnya Mira sedang menatap ke
luar kaca jendela di sampingnya. Gun tahu, benak Mira sedang terbang
bersama daun-daun kering yang melayang di luar sana. Di ruas jalan itu,
pohon mahoni berjajar dan daun-daunnya yang kecoklatan mulai berguguran
di awal musim kemarau ini.
“Mir,” Gun memecah kesunyian yang menggelisahkan itu, “Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang?”
Tak ada jawaban.
“Mir, please. Katakanlah sesuatu. Jangan diam saja.”
“Gun, seharusnya dulu kamu ijinkan aku pasang spiral atau sekalian
mengikat kandunganku,” desis Mira perlahan sambil menahan tangisan
kemarahannya.
Gun terdiam sesaat. “Jadi sekarang kamu menyalahkan aku karena menganjurkan kita pakai kondom saja?” Gun mendadak kesal.
“Mir..., Mir.... Kamu dengar sendiri kata dokter Hambali tadi. Tidak ada
satu pun alat kontrasepsi yang bisa memberikan jaminan seratus persen.
Bagaimana pun, sekecil apa pun probabilitasnya, kemungkinan untuk hamil
masih ada.”
Mira tidak menanggapi. Ia membisu dan kembali menatap ke luar jendela.
“Sudahlah, Mir. Ini sudah terjadi. Lagipula ia anak kita berdua. Yang
bisa kita lakukan sekarang adalah menjaganya hingga ia lahir dengan
sehat. Lalu kita akan merawat serta membesarkannya, ya kan?”
“Tapi aku tidak ingin punya anak, Gun.”
Gun menghela napas panjang. “Nanti juga kamu pasti bisa menerimanya. Mencintainya. Percayalah, Mir.”
----
Sudah tiga hari berlalu, namun kesunyian yang menggelisahkan masih
menggantung di antara mereka berdua. Hari-hari berlangsung seperti
biasa, namun tak ada percakapan yang terjadi. Hanya keheningan yang
menunggu seperti sebuah bom waktu.
“Mir, kamu masih belum bisa menerimanya?” Gun tak tahan lagi dan bertanya pada Mira yang berbaring memunggungi dirinya.
Hanya terdengar hela napas perlahan sebagai jawaban.
“Mira, aku tidak mengerti dirimu.”
“Kamu tahu aku, Gun. Dari dulu kamu sudah tahu pendirianku, bahkan sejak
kita pacaran, jauh sebelum kita menikah. Aku tidak mau punya anak,
Gun.”
“Tapi itu kan dulu. Terus terang aku selalu berpikir, cepat atau lambat
kamu akan berubah. Apalagi kita sudah tiga tahun menikah.”
“Tidak, Gun. Kamu ternyata tidak mengerti aku. Aku tidak mau punya anak. Tidak dulu, tidak juga sekarang.”
“Ya, kau benar,” keluh Gun pelan, “aku ternyata sama sekali tidak
mengerti dirimu.” Gun tercenung sejenak sebelum melanjutkannya dengan
tanya, “Mira, perkawinan kita selama ini bahagia, kan?”
Mira mengangguk.
“Kita pun sudah cukup mapan. Kita berdua sama-sama sehat dan mampu untuk
punya keturunan. Lalu apa salahnya bila kita punya anak? Kita memang
tidak merencanakannya, tapi Tuhan yang memberikannya untuk kita. Kenapa,
Mir? Setahuku kamu tidak anti anak-anak. Paling tidak kamu sayang
sekali pada keponakan-keponakanmu. Kamu juga bukan dari keluarga yang
bermasalah. Orang-tuamu masih hidup rukun dan bahagia. Kamu tidak punya
trauma, kan? Kenapa, Mira? Aku benar-benar tidak mengerti.”
“Aku egois. Ya, aku egois! Bilang saja begitu! Aku tidak mau hidupku
dikacaukan dengan kewajiban mengurus anak. Hidupku menarik, Gun. Aku
punya karir yang bagus. Aku punya banyak mimpi. Aku ingin melihat banyak
tempat. Aku tidak mau kehidupanku berubah menjadi keharusan mengurus
tetek-bengek dan remeh-temeh seputar anak. Aku tidak mau berubah menjadi
pribadi yang membosankan, ibu-ibu yang hidupnya hanya berpusat pada
anak dan anak saja, perempuan yang merelakan mimpi-mimpinya kandas demi
anaknya. Aku tidak mau seperti itu, Gun. Aku tidak bisa. Perempuan lain
mungkin bisa. Tapi aku tidak.”
Gun terdiam lama.
“Lalu, sekarang apa maumu, Mir? Anak di kandunganmu sekarang, anak kita, apa yang akan kamu lakukan dengannya?”
“Aku tidak tahu, Gun. Mungkin...”
“Kamu tidak berpikir untuk menggugurkannya, kan, Mir?”
“Aku tidak tahu, Gun. Aku tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan...”
Gun menggeleng tidak percaya. Ia benar-benar tidak mengerti Mira. Ia
tiba-tiba merasa berhadapan dengan seseorang yang teramat asing.
Brak! Gun membanting pintu kamar. Tak lama kemudian, dari dalam
kamar, Mira mendengar derung mobil Gun pergi meninggalkan rumah.
Meninggalkan dirinya dalam kesenyapan.
----
Mira merasa kepalanya pusing. Bagian bawah perutnya juga terasa amat
sakit. Nyeri sekali rasanya. Untuk beberapa saat ia lupa apa yang
terjadi. Perlu beberapa menit sebelum ia mulai mengenali keberadaannya.
Ruangan putih, seprai putih, bau obat dan antiseptik. Ini rumah sakit.
Ingatannya pun berpusar. Test-pack, dua strip. Lalu hari-hari
yang dilaluinya dengan rasa marah, bingung, dan penolakan. Pertengkaran
demi pertengkaran yang terjadi. Hingga tadi pagi, ketika tiba-tiba
perutnya terasa melilit sakit. Ada darah merembes di antara kedua
kakinya. Ia ingat sekarang. Ia ingat bahwa ia berteriak memanggil Gun.
Mereka ke rumah sakit. Keguguran, kata dokter. Kuretasi.
“Hai, Mir,” Gun tersenyum ketika melihat Mira sudah terbangun.
Mira menatap wajah Gun yang berada di sisinya. Dilihatnya ada setitik
bening di sudut mata Gun. Gun menangis? Mira tak pernah melihat Gun
menangis sebelumnya.
“Gun...,” suara Mira tercekat. Tangan kanannya hendak mengusap titik air di mata Gun.
“Sudah, kamu istirahat saja. Kamu gak apa-apa, kok, Sayang. Dokter
bilang kamu hanya perlu istirahat satu minggu saja. Sakitnya akan cepat
hilang. Selebihnya kamu akan baik-baik saja,” kata Gun sambil meraih dan
menggenggam tangan Mira.
Mira tersenyum lemah. Teringat ia akan gumpalan darah yang merembes
keluar dari tubuhnya. Apakah gumpalan itu telah bernyawa? Mengapa ia
gugur? Apakah ia tahu bahwa ia tidak diinginkan lalu memilih untuk
pergi? Ah, mungkin ini solusi yang terbaik.
----
Perawat mendorong kursi roda Mira ke ruang tunggu. Ia sudah diperbolehkan pulang.
“Tunggu di sini sebentar. Aku ambil mobil dulu,” kata Gun. Mira mengangguk.
Mengapa ada suara tangis bayi? Kepalanya masih terasa pusing. Ah ya,
tentu saja, ini rumah sakit ibu dan anak. Dilihatnya seorang ibu yang
duduk tak jauh di sebelahnya. Di pelukannya ada sesosok bayi mungil
dengan pipi bulat merah terbungkus selimut merah muda. Bayi perempuan,
batinnya. Milikku, perempuan juga kah? Ia menggeleng pelan. Pertanyaan
bodoh, Mira.
Dipandangnya lagi bayi berselimut merah muda itu. Matanya terpejam
sangat tenang dalam pelukan sang ibu yang sebaliknya seakan tak berkedip
memandang bayinya. Kerongkongan Mira mendadak terasa begitu kering.
Tak tahan, Mira memalingkan pandangannya ke depan. Di seberang tempat
duduknya, seorang bayi sedang menangis dalam timangan ayahnya. Sang ibu
lalu mengambil alih, memeluknya, membujuknya, dan segera menyusuinya. Di
sudut lain, seorang anak sedang belajar berjalan dibantu sang ayah.
Dari sisi lain tempat duduk Mira, terdengar seorang anak sedang
berceloteh cadel. Mira memejamkan mata. Kepalanya makin terasa berat.
Luka di dalam tubuhnya kembali berdenyut sakit.
Tak lama kemudian Gun kembali. Perawat yang menemani Mira, kembali membantu mendorong kursi rodanya.
“Kamu baik-baik saja, Yang?” tanya Gun melihat wajah Mira yang begitu pucat. Mira mengangguk.
“Sakit sekali?”
“Sedikit.” Gun memapahnya, membantunya berdiri dan masuk ke dalam mobil.
Di antara derum mesin mobil yang mulai berjalan, suara tangis dan
celoteh bayi di ruang tunggu tadi masih menyisakan gema di telinga Mira.
Gaungnya tak hilang bahkan entah mengapa terasa semakin keras. Tubuh
Mira mulai berkeringat dingin. Pandangannya berputar-putar. Perlahan
dirasakannya ada rasa nyeri lain merambati dirinya. Mira menggigit
bibirnya. Namun sakit itu tak juga hilang. Bukan, ini bukan dari bagian
bawah tubuhnya. Rasa perih ini perlahan namun makin terasa. Seperti
menusuk, mengiris, menghujam. Tepat di dadanya. Kenapa? Kenapa rasanya
begitu sakit? Mira memejamkan matanya. Terasa seperti ada sesuatu sudah
menggerogoti dadanya. Sebuah sendok tajam yang membersihkan rahimnya,
ternyata juga telah mengorek dan melubangi hatinya.
Mira menatap ke luar jendela. Angin bertiup cukup kencang, melepaskan
dedaunan kering dari ujung-ujung ranting dan menerbangkannya. Butiran
bening mulai mengembang di sudut-sudut mata Mira. Pandangannya mengabur
oleh air mata. Samar ditatapnya daun-daun yang melayang jatuh ke tanah
itu. Mereka luruh. Gugur. Seperti anak yang sempat dikandungnya.
Sumber: neenoy.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Mei 2014
Selasa, 08 April 2014
Airmata Sakura
Hamparan tikar bambu juga sederet makanan kecil masih berjejer di
samping keranjang, termasuk sebuah buku harian berwarna merah muda milik
Ayumi. Sementara Miyuki duduk mematung, melihat ke sekeliling Murayama
Koen[1]
yang dipadati pengunjung. Mata cokelatnya mencari-cari Ayumi, gadis
berambur kuncir kuda dengan sebuah pita merah muda terselip di
rambutnya. Baru saja, setelah dia menutup telpon dari Shinji,
kekasihnya, dia tersadar kalau sahabatnya yang tadi duduk di sampingnya
menghilang tanpa memberitahu ke mana dia akan pergi.
Hingga matanya kembali tertumbuk pada halaman buku harian Ayumi yang terbuka. Ada sebuah catatan yang dilelehi airmata dan sebuah kelopak sakura yang jatuh tepat di atasnya.
Hiroshi, aku tak tahu sebenarnya apa itu cinta. Padahal sering sekali aku menuliskannya. Aku tak mengerti, cinta itu di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana. Aku hanya tahu -hanya sekedar tahu- bahwa cinta ada di dalam hati, dan dirasakan oleh jiwa. Hiroshi, adakah cinta lain yang mampu kurasakan selain dirimu?
Hembusan angin musim semi yang berbaur dengan riuh tawa orang-orang yang sedang ber-hanami[2], tak menarik lagi bagi Miyuki. Dia berusaha keras mengusir pikiran buruk tentang Ayumi. Apalagi, dia tak bisa meninggalkan tempat duduknya hingga Shinji tiba.
***
Sekelebat hitam mengelilingiku tiba-tiba. Mata tajam mereka yang tersembunyi di balik topeng ninja, menatapku tanpa ampun. Mereka berdiri dalam posisi menyerang dengan tangan kanan yang sudah siap menarik samurai keluar dari sarungnya.
"Dare wa[3]?" tanya salah satu di antara mereka dengan suara kasar.
Aku menelan ludah. "Yamada Ayumi." Kerongkonganku tercekat.
Tatapan mereka makin menyelidik.
"Dia temanku!" sebuah pekikan berasal dari belakangku, di balik rindangnya pohon ceri tempatku bersandar.
Kemudian tengkukku terasa ditiup angin, dan sesosok pemuda seusiaku berdiri di sampingku. Sikapnya seolah melindungiku. Hati-hati sekali dia bergerak mendekat, lalu tangannya terulur pelan setelah orang-orang yang tadi mengelilingiku kembali berdiri tegap.
"Ayo, kita pulang! Aku kan sudah bilang, jangan main-main dengan pakaian para tojin[4] itu lagi." Setelah tangannya menggenggam tanganku. "Maaf, kami permisi!"
Aku tak mengerti apa yang selanjutnya terjadi, tapi kini aku berada di punggungnya, berkelebatan di antara dahan-dahan ceri yang menjatuhkan sakura. Bahkan, jika aku ingin pun, aku dapat meraih beberapa sakuranbo[5] itu dan mencicipi rasa sepatnya. Kemudian ....
"Turunlah!"
Takut-takut, aku turun dari punggungnya. Dan saat dia berbalik ... aku menemukan mata teduh yang hampir dua tahun ini tak sanggup kuusir dari pikiranku. Gelombang rindu yang telah terlalu lama tertahan di tengah lautan hatiku, kini menghempas, menciptakan buih-buih yang tak tahu harus bergembira atau kembali menangis pilu.
"Hiroshi?" tanpa sadar bibirku menggumamkan nama itu. Kusadari mataku mulai berembun lagi.
"Aku bukan Hiroshi." Suara lembutnya berbaur dalam hembusan angin musim semi yang menjatuh berkelopak-kelopak sakura di sekitar kami. "Tadi, siapa namamu?"
"Yamada Ayumi."
"Untuk apa kamu datang kemari?"
Aku menggeleng. "Aku bahkan enggak tahu sekarang aku di mana." Kualihkan pandanganku pada langit biru cerah, begitu bersih. Sementara tak ada bangunan lain yang kutemukan di sekitarku, selain pohon-pohon ceri yang sedang berbunga lebat.
Dia menghela napas pelan. "Darimana asalmu?"
"Kyoto."
Matanya mulai menyelidik. Tetapi rona sendu dari matanya yang hitam pekat, tak membuatku takut.
"Apa aku masih di Kyoto?"
Dia mengangguk cepat. Saat itu, barulah kusadari kalau rambutnya panjang dan dicepol ke atas seperti pegulat. Juga pakaiannnya, dia menggunakan yukata[6] biru tua yang terlihat baru. Di pinggang kirinya, kutemukan sebilah pedang berukuran kecil terselip di obi[7]-nya. Bahkan dia hanya memakai geta[8] sebagai alas kaki.
"Apa sebelum kamu berada di sini, sebuah kelopak sakura terkena airmatamu?" tanyanya halus.
Aku tak mengerti apa yang ditanyakannya, maka hanya kumiringkan kepalaku ke kanan, seperti yang biasa kulakukan saat sedang merasa bingung, sebagai jawabannya.
Perlahan, senyum di wajahnya memudar, berganti wajah sendu, serupa binar matanya yang sejak tadi tak bisa berbohong. "Kamu mirip sekali dengan Sachi, kekasihku yang telah dinikahi Yang Mulia Shogun[9] dan dijadikannya selir muda." Matanya menerawang. "Oh ya, namaku Jiraemon, bukan Hiroshi."
Dia melangkah menjauh, lalu duduk bersandar pada batang pohon ceri. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam sebuah kantung yang terikat kuat di obi-nya, sebuah sisir kayu berukir.
Aku mendekatinya, lalu duduk tenang di sampingnya. Kulihat tatapannya yang terus saja lekat pada sisir itu.
"Ayumi, sepertinya aku yang memanggilmu datang kemari. Gomen nasai[10]."
"Aku enggak mengerti."
Matanya berembun, tatapannya kembali tertuju padaku, tepat ke dalam mataku. Tuhan, dia benar-benar mirip dengan Hiroshi, tak ada sedikit pun beda yang mampu kutemukan selain pakaiannya. Tidak. Bahkan pakaian yang dikenakannya, serupa dengan yang dulu dia kenakan saat pergi bersamaku untuk menikmati Festival Musim Panas.
Kemudian dia beralih lagi dariku, cukup lama dia terdiam, hanya bersandar dengan mata yang terus lekat menatap langit, menikmati pikirannya sendiri. Aku tenggelam dalam ketenangannya, menunggu sebuah suara dari kalimat yang akan kembali dia ucapkan. Tapi hingga langit mulai berwarna kemerahan, dia masih tak juga mau berbicara.
"Kamu ... mungkin Dewa yang mengirimmu sebagai pengobat luka hatiku selama ini. Ayumi, kamu mirip sekali dengan Sachi, gadis yang menghadiahkan aku sisir ini sebagai salam perpisahan sebelum dia diambil paksa oleh Shogun dari sisiku. Lalu dia memilih bunuh diri setelah tak bisa melarikan diri dari istana." Suaranya penuh pilu. "Tunggulah, akan kupetikkan beberapa kelopak sakura yang akan membawamu kembali."
Aku tak tahu harus berujar apa, atau memberikan jawaban apa melalui ... sekadar mengangguk atau menggeleng. Dia berdiri, lalu melompat cepat pada batang ceri di belakangku. Kaki ringannya berlompatan di dahannya yang rapuh seperti melayang, dan tangannya berkali-kali meraih kelopak sakura yang baru saja mekar merekah merah muda. Dalam beberapa detik, dia kembali duduk di sampingku, kali ini tepat di hadapanku agar dia dapat menatap wajahku lebih lekat.
Jantungku berdegub kuat, menimbulkan beriak di mataku yang mejatuhkan dua tetes airmata. Tetesan itu menerobos dari pelupukku tanpa mampu kucegah.
Mendapati mataku yang berair, dia hanya terdiam. Kudapati raut bingung di wajahnya, dan gerakan tangannya kikuk. Dia hanya meletakkan kelopak-kelopak itu di pangkuannya.
"Kenapa kamu menangis, Ayumi?"
Bibirku bergetar. Tangan kananku menarik keluar sebuah rantai kalung keperakan yang telah lama bergantung di leherku. Kutunjukkan padanya bandulnya yang merah muda berbentuk bunga sakura dan kubuka bandul kalungku, memperlihatkan potret senyum manisku dan Hiroshi saat Festival Musim Panas yang pertama dan terakhir kami.
"Itu ... seperti aku ... dan Sachi." Suara Jiraemon terbawa angin.
"Ini aku dan Hiroshi, hampir dua tahun yang lalu. Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan saat sedang bersepeda menuju ke Murayama Koen untuk menemuiku di akhir musim dingin. Aku menemukannya bersimbah darah di antara kerumunan orang-orang dan suara sirine ambulance yang menakutkan. Dia menatapku penuh cinta sebelum matanya terpejam selamanya."
Jiraemon menatapku sendu. Tangan kanannya terulur, menghapus beberapa tetes airmataku yang memberontak, meluncur bergiliran dari kedua mataku.
"Jiraemon, kalau boleh aku tahu, doa apa yang kamu minta pada Dewa, sampai-sampai tadi kamu meminta maaf padaku?"
Dia tertunduk. "Doa bodohku, agar Dewa dan kelopak-kelopak sakura berkenan mengembalikan Sachi padaku. Ternyata kamu yang datang, gadis dengan kenangan tentang pemuda yang rupanya sama sepertiku." Tangannya cepat mengumpulkan kelopak sakura di pangkuannya. "Pulanglah, Ayumi!" lalu, dia berlutut dan menjatuhkan kelopak-kelopak itu ke atas kepalaku.
"Jika takdir telah menautkan hatiku dengann Sachi, juga hatimu dengan seseorang yang begitu serupa denganku itu, maka takdir pula yang akan menuntun hidupku dan hidupmu kembali berjalan sesuai dengan cahaya kebahagiaan hingga aku, dan tentu juga kamu, akan menemukan belahan hati kita di surga." Itulah suara terakhirnya Jiraemon yang kudengar.
Mataku masih saja berembun, tapi aku dapat melihat dengan jelas cahaya merah muda yang berpendar di sekitar tubuhku, memudarkan sosok Jiraemon yang menatapku tanpa berkedip.
"Ayumi-chan, kimi wa zutto aisuru.[11]" suara Hiroshi ditiupkan angin hingga ke pendengaranku.
Sekelebat, tiba-tiba kutemukan wajah Hiroshi yang tersenyum. Seragam musim dingin berwarna biru tuanya, juga rambut pendeknya yang selalu diberi gel rambut agar berdiri, juga kacamata berbingkai hitam tipisnya yang bertengger di hidungnya, membuatku semakin merindukannya. Kemudian tangannya mengelus kepalaku beberepa kali, diiringi aroma woody yang biasa kubaui dari tubuhnya.
"Berbahagialah. Aku akan menunggumu di sini, di surga," ucapnya terakhir kali, sebelum tubuhnya kembali memudar.
***
"Apa yang sedang kamu lakukan disini? Kamu mau bunuh diri?" bentak Shinji pada Ayumi. Dia menarik paksa tangan kurus sahabat kekasihnya itu menuju ke tepi jalan.
Para penjual makanan dan minuman yang berjejer di sekitar jalan masuk Murayama Koen yang berseragam warna-warni, memperhatikan mereka sebentar. Baru saja Ayumi hampir tertabrak sebuah motor yang melintas.
Ayumi tersadar. Matanya beralih ke sekelilingnya, menemukan keramaian dan lalu-lalang kendaraan. Sementara wajah Shinji memerah, tapi matanya terlihat tak tega.
"Aku tahu ... Hiroshi meninggal di tempat ini, tepat di sini. Tapi apa pantas kamu juga ingin mati? Kamu nggak tahu, Miyuki mencemaskanmu, hingga memaksaku juga untuk ber-hanami di Murayama Koen ini untuk merelakan kepergian Hiroshi bersama-sama. Bahkan, hhh ... karena Hiroshi pernah memintaku untuk menjagamu saat dia sedang enggak bersamamu, sampai saat ini ... mana sanggup kutatap potretnya bersamaku, apalagi mengunjungi makamnya, terutama tempat ini."
Shinji melepaskan cengkeraman tangannya. Menuntun Ayumi kembali menuju ke tengah Murayama Koen, tempat Miyuki menunggunya dengan cemas.
Melihat Ayumi yang berjalan tertunduk mendekat, Miyuki bangkit, kelegaan tergambar jelas di wajahnya. Menemukan mata Ayumi yang memerah dan sedikit bengkak, dia memeluk erat sahabatnya itu, mengelus-elus punggungnya.
Ayumi kembali terisak, sementara Shinji menghalangi pandangan orang-orang dari tangisan gadis yang sudah dianggapnya adik, sejak dia menjalin cinta dengan adik sepupunya sendiri.
"Miyuki, tadi aku bertemu Hiroshi. Dia juga merindukan aku, Miyuki."
Angin musim semi kembali berhembus, kali ini lebih kencang dan membalik halaman buku harian Ayumi, menjatuhkan sekelopak bunga sakura yang tadi terkena lelehan airmatanya ke atas tikar bambu.
Sumber: kawankumagz.com
Hingga matanya kembali tertumbuk pada halaman buku harian Ayumi yang terbuka. Ada sebuah catatan yang dilelehi airmata dan sebuah kelopak sakura yang jatuh tepat di atasnya.
Hiroshi, aku tak tahu sebenarnya apa itu cinta. Padahal sering sekali aku menuliskannya. Aku tak mengerti, cinta itu di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana. Aku hanya tahu -hanya sekedar tahu- bahwa cinta ada di dalam hati, dan dirasakan oleh jiwa. Hiroshi, adakah cinta lain yang mampu kurasakan selain dirimu?
Hembusan angin musim semi yang berbaur dengan riuh tawa orang-orang yang sedang ber-hanami[2], tak menarik lagi bagi Miyuki. Dia berusaha keras mengusir pikiran buruk tentang Ayumi. Apalagi, dia tak bisa meninggalkan tempat duduknya hingga Shinji tiba.
***
Sekelebat hitam mengelilingiku tiba-tiba. Mata tajam mereka yang tersembunyi di balik topeng ninja, menatapku tanpa ampun. Mereka berdiri dalam posisi menyerang dengan tangan kanan yang sudah siap menarik samurai keluar dari sarungnya.
"Dare wa[3]?" tanya salah satu di antara mereka dengan suara kasar.
Aku menelan ludah. "Yamada Ayumi." Kerongkonganku tercekat.
Tatapan mereka makin menyelidik.
"Dia temanku!" sebuah pekikan berasal dari belakangku, di balik rindangnya pohon ceri tempatku bersandar.
Kemudian tengkukku terasa ditiup angin, dan sesosok pemuda seusiaku berdiri di sampingku. Sikapnya seolah melindungiku. Hati-hati sekali dia bergerak mendekat, lalu tangannya terulur pelan setelah orang-orang yang tadi mengelilingiku kembali berdiri tegap.
"Ayo, kita pulang! Aku kan sudah bilang, jangan main-main dengan pakaian para tojin[4] itu lagi." Setelah tangannya menggenggam tanganku. "Maaf, kami permisi!"
Aku tak mengerti apa yang selanjutnya terjadi, tapi kini aku berada di punggungnya, berkelebatan di antara dahan-dahan ceri yang menjatuhkan sakura. Bahkan, jika aku ingin pun, aku dapat meraih beberapa sakuranbo[5] itu dan mencicipi rasa sepatnya. Kemudian ....
"Turunlah!"
Takut-takut, aku turun dari punggungnya. Dan saat dia berbalik ... aku menemukan mata teduh yang hampir dua tahun ini tak sanggup kuusir dari pikiranku. Gelombang rindu yang telah terlalu lama tertahan di tengah lautan hatiku, kini menghempas, menciptakan buih-buih yang tak tahu harus bergembira atau kembali menangis pilu.
"Hiroshi?" tanpa sadar bibirku menggumamkan nama itu. Kusadari mataku mulai berembun lagi.
"Aku bukan Hiroshi." Suara lembutnya berbaur dalam hembusan angin musim semi yang menjatuh berkelopak-kelopak sakura di sekitar kami. "Tadi, siapa namamu?"
"Yamada Ayumi."
"Untuk apa kamu datang kemari?"
Aku menggeleng. "Aku bahkan enggak tahu sekarang aku di mana." Kualihkan pandanganku pada langit biru cerah, begitu bersih. Sementara tak ada bangunan lain yang kutemukan di sekitarku, selain pohon-pohon ceri yang sedang berbunga lebat.
Dia menghela napas pelan. "Darimana asalmu?"
"Kyoto."
Matanya mulai menyelidik. Tetapi rona sendu dari matanya yang hitam pekat, tak membuatku takut.
"Apa aku masih di Kyoto?"
Dia mengangguk cepat. Saat itu, barulah kusadari kalau rambutnya panjang dan dicepol ke atas seperti pegulat. Juga pakaiannnya, dia menggunakan yukata[6] biru tua yang terlihat baru. Di pinggang kirinya, kutemukan sebilah pedang berukuran kecil terselip di obi[7]-nya. Bahkan dia hanya memakai geta[8] sebagai alas kaki.
"Apa sebelum kamu berada di sini, sebuah kelopak sakura terkena airmatamu?" tanyanya halus.
Aku tak mengerti apa yang ditanyakannya, maka hanya kumiringkan kepalaku ke kanan, seperti yang biasa kulakukan saat sedang merasa bingung, sebagai jawabannya.
Perlahan, senyum di wajahnya memudar, berganti wajah sendu, serupa binar matanya yang sejak tadi tak bisa berbohong. "Kamu mirip sekali dengan Sachi, kekasihku yang telah dinikahi Yang Mulia Shogun[9] dan dijadikannya selir muda." Matanya menerawang. "Oh ya, namaku Jiraemon, bukan Hiroshi."
Dia melangkah menjauh, lalu duduk bersandar pada batang pohon ceri. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam sebuah kantung yang terikat kuat di obi-nya, sebuah sisir kayu berukir.
Aku mendekatinya, lalu duduk tenang di sampingnya. Kulihat tatapannya yang terus saja lekat pada sisir itu.
"Ayumi, sepertinya aku yang memanggilmu datang kemari. Gomen nasai[10]."
"Aku enggak mengerti."
Matanya berembun, tatapannya kembali tertuju padaku, tepat ke dalam mataku. Tuhan, dia benar-benar mirip dengan Hiroshi, tak ada sedikit pun beda yang mampu kutemukan selain pakaiannya. Tidak. Bahkan pakaian yang dikenakannya, serupa dengan yang dulu dia kenakan saat pergi bersamaku untuk menikmati Festival Musim Panas.
Kemudian dia beralih lagi dariku, cukup lama dia terdiam, hanya bersandar dengan mata yang terus lekat menatap langit, menikmati pikirannya sendiri. Aku tenggelam dalam ketenangannya, menunggu sebuah suara dari kalimat yang akan kembali dia ucapkan. Tapi hingga langit mulai berwarna kemerahan, dia masih tak juga mau berbicara.
"Kamu ... mungkin Dewa yang mengirimmu sebagai pengobat luka hatiku selama ini. Ayumi, kamu mirip sekali dengan Sachi, gadis yang menghadiahkan aku sisir ini sebagai salam perpisahan sebelum dia diambil paksa oleh Shogun dari sisiku. Lalu dia memilih bunuh diri setelah tak bisa melarikan diri dari istana." Suaranya penuh pilu. "Tunggulah, akan kupetikkan beberapa kelopak sakura yang akan membawamu kembali."
Aku tak tahu harus berujar apa, atau memberikan jawaban apa melalui ... sekadar mengangguk atau menggeleng. Dia berdiri, lalu melompat cepat pada batang ceri di belakangku. Kaki ringannya berlompatan di dahannya yang rapuh seperti melayang, dan tangannya berkali-kali meraih kelopak sakura yang baru saja mekar merekah merah muda. Dalam beberapa detik, dia kembali duduk di sampingku, kali ini tepat di hadapanku agar dia dapat menatap wajahku lebih lekat.
Jantungku berdegub kuat, menimbulkan beriak di mataku yang mejatuhkan dua tetes airmata. Tetesan itu menerobos dari pelupukku tanpa mampu kucegah.
Mendapati mataku yang berair, dia hanya terdiam. Kudapati raut bingung di wajahnya, dan gerakan tangannya kikuk. Dia hanya meletakkan kelopak-kelopak itu di pangkuannya.
"Kenapa kamu menangis, Ayumi?"
Bibirku bergetar. Tangan kananku menarik keluar sebuah rantai kalung keperakan yang telah lama bergantung di leherku. Kutunjukkan padanya bandulnya yang merah muda berbentuk bunga sakura dan kubuka bandul kalungku, memperlihatkan potret senyum manisku dan Hiroshi saat Festival Musim Panas yang pertama dan terakhir kami.
"Itu ... seperti aku ... dan Sachi." Suara Jiraemon terbawa angin.
"Ini aku dan Hiroshi, hampir dua tahun yang lalu. Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan saat sedang bersepeda menuju ke Murayama Koen untuk menemuiku di akhir musim dingin. Aku menemukannya bersimbah darah di antara kerumunan orang-orang dan suara sirine ambulance yang menakutkan. Dia menatapku penuh cinta sebelum matanya terpejam selamanya."
Jiraemon menatapku sendu. Tangan kanannya terulur, menghapus beberapa tetes airmataku yang memberontak, meluncur bergiliran dari kedua mataku.
"Jiraemon, kalau boleh aku tahu, doa apa yang kamu minta pada Dewa, sampai-sampai tadi kamu meminta maaf padaku?"
Dia tertunduk. "Doa bodohku, agar Dewa dan kelopak-kelopak sakura berkenan mengembalikan Sachi padaku. Ternyata kamu yang datang, gadis dengan kenangan tentang pemuda yang rupanya sama sepertiku." Tangannya cepat mengumpulkan kelopak sakura di pangkuannya. "Pulanglah, Ayumi!" lalu, dia berlutut dan menjatuhkan kelopak-kelopak itu ke atas kepalaku.
"Jika takdir telah menautkan hatiku dengann Sachi, juga hatimu dengan seseorang yang begitu serupa denganku itu, maka takdir pula yang akan menuntun hidupku dan hidupmu kembali berjalan sesuai dengan cahaya kebahagiaan hingga aku, dan tentu juga kamu, akan menemukan belahan hati kita di surga." Itulah suara terakhirnya Jiraemon yang kudengar.
Mataku masih saja berembun, tapi aku dapat melihat dengan jelas cahaya merah muda yang berpendar di sekitar tubuhku, memudarkan sosok Jiraemon yang menatapku tanpa berkedip.
"Ayumi-chan, kimi wa zutto aisuru.[11]" suara Hiroshi ditiupkan angin hingga ke pendengaranku.
Sekelebat, tiba-tiba kutemukan wajah Hiroshi yang tersenyum. Seragam musim dingin berwarna biru tuanya, juga rambut pendeknya yang selalu diberi gel rambut agar berdiri, juga kacamata berbingkai hitam tipisnya yang bertengger di hidungnya, membuatku semakin merindukannya. Kemudian tangannya mengelus kepalaku beberepa kali, diiringi aroma woody yang biasa kubaui dari tubuhnya.
"Berbahagialah. Aku akan menunggumu di sini, di surga," ucapnya terakhir kali, sebelum tubuhnya kembali memudar.
***
"Apa yang sedang kamu lakukan disini? Kamu mau bunuh diri?" bentak Shinji pada Ayumi. Dia menarik paksa tangan kurus sahabat kekasihnya itu menuju ke tepi jalan.
Para penjual makanan dan minuman yang berjejer di sekitar jalan masuk Murayama Koen yang berseragam warna-warni, memperhatikan mereka sebentar. Baru saja Ayumi hampir tertabrak sebuah motor yang melintas.
Ayumi tersadar. Matanya beralih ke sekelilingnya, menemukan keramaian dan lalu-lalang kendaraan. Sementara wajah Shinji memerah, tapi matanya terlihat tak tega.
"Aku tahu ... Hiroshi meninggal di tempat ini, tepat di sini. Tapi apa pantas kamu juga ingin mati? Kamu nggak tahu, Miyuki mencemaskanmu, hingga memaksaku juga untuk ber-hanami di Murayama Koen ini untuk merelakan kepergian Hiroshi bersama-sama. Bahkan, hhh ... karena Hiroshi pernah memintaku untuk menjagamu saat dia sedang enggak bersamamu, sampai saat ini ... mana sanggup kutatap potretnya bersamaku, apalagi mengunjungi makamnya, terutama tempat ini."
Shinji melepaskan cengkeraman tangannya. Menuntun Ayumi kembali menuju ke tengah Murayama Koen, tempat Miyuki menunggunya dengan cemas.
Melihat Ayumi yang berjalan tertunduk mendekat, Miyuki bangkit, kelegaan tergambar jelas di wajahnya. Menemukan mata Ayumi yang memerah dan sedikit bengkak, dia memeluk erat sahabatnya itu, mengelus-elus punggungnya.
Ayumi kembali terisak, sementara Shinji menghalangi pandangan orang-orang dari tangisan gadis yang sudah dianggapnya adik, sejak dia menjalin cinta dengan adik sepupunya sendiri.
"Miyuki, tadi aku bertemu Hiroshi. Dia juga merindukan aku, Miyuki."
Angin musim semi kembali berhembus, kali ini lebih kencang dan membalik halaman buku harian Ayumi, menjatuhkan sekelopak bunga sakura yang tadi terkena lelehan airmatanya ke atas tikar bambu.
Sumber: kawankumagz.com
Senin, 03 Maret 2014
Cinta = Air Mata (Cerita Pendek)
Selamat _______________________ (isi sesuai dengan keadaan saat Anda membaca cerpen ini, pagi, siang, sore, malam, subuh, whatever)
Apa kabar? Semoga baik, sehat dan selalu berada dalam tatapan yang sempurna. Aminnnnn..
Hari ini, dalam membuka pintu dunia yang sepertinya telah tertutup oleh jutaan mata yang sedang merasakan ke-GALAU-an. Aku akan menceritakan sebuah cerita (lumayan) pendek, sumpah! benar-benar pendek, ciyuusss.... Ingat! Setiap ada kalimat yang berada di dalam kurung => (___) berarti itu adalah kalimat lansung dari pengarang. Tunggu! Sudah pada tahu kan siapa pengarangnya? Jelas, pengarangnya adalah orang sudah dari tulisannya Anda baca :-D Orang yang insya Allah ganteng, cakep, tampan, beribawa, pintar, baik, soleh, rajin menabung dan tidak sombong (GubrakKKK).
Tanpa basa-basi lagi , sebelum pembacanya melarikan diri dan belum sempat membaca CERPEN ini, lansung saja kita pesan KTP, ehhh. maksudnya ke TKP. Let's go to story.....
Uuuppps,,,,, tunggu dulu! (apa lagi sih?) Cerpen ini adalah cerita billingual, jadi ada dua bahasa. Buat kalian yang kurang mengerti silahkan konsultasi lansung sama ABAH GOOGLE. Thanks..
Cinta = Air Mata
Kisah ini berawal dari seorang pasangan yang sedang memadu kasih (tenang! madunya masih madu asli). Sebut saja mereka adalah Rara dan Gilang (maaf,nama tidak disamarkan). Rara adalah gadis paling baik (semoga saja) tapi juga punya tipu muslihat yang super canggih, lebih canggih dari IPAD, I-PHONE atau saudara-saudaranya yang lain. Sedangkan Gilang adalah cowok tampan dan super tajir alias pengusaha paling kaya di kota itu (maaf, kota tidak disebutkan karena memungkinkan Anda untuk tertarik mengunjunginya) tapi dia juga agak bodoh, bahkan bodoh banget tapi super setia.
Rara dan Gilang sedang bercumbu mesra di sebuah taman bunga yang pasti banyak bunganya. Di tengah kemesraan mereka, tiba-tiba seorang bule yang kurang jelas keberadaanya itu datang dengan muka merah memanas. Gilang yang sementara sedang memegang tangan Rara dengan penuh kasih ditambah cuka dan diuleti dengansedikit bumbu pelengkap (loh, kok jadi kayak mau masak?). Bule itu lantas datang memisahkan mereka berdua.
"Woy, who are you? Why do you hold my girlfriend?" kata bule itu dengan logat Amerika-nya masih kental sambil melepaskan tangan Gilang yang tertempel rapi di atas tangan Rara.
"I don't know" balas Gilang yang sok mengerti perkataan bule itu."Sayang, siapa dia? datang ngga jelas lansung memisahkan kita. Lalu apalagi yang dikatakannya?" lanjut Gilang sembari bertanya kepada Rara.
"Tenang sayang, dia itu klien saya (tuh kan, bohong!)" Jawab Rara dengan lumayan penuh meyakinkan kata-katanya.
Saat itu, Gilang ingin mengurus bule itu dengan menghajarnya tapi karena tiba-tiba telponnya berdering dengan kencang yang hingga terdengar sampai bumi bagian selatan (wajar, telpon mahal kayaknya). Telpon itu berasal dari salah satu teman bisnisnya. Karena penting jadi dia harus datang untuk menemuinya.
"Sayang, nanti saya jelaskan semuanya. Cepat pergi, nanti teman kamu marah lagi" tangkas Rara.
Gilang pun meninggalkan Rara bersama bule yang diakui sebagai klien Rara. (Tenang pemirsa, ini masih awal belum klimaks, jadi ngga usah lebay).
Sementara Gilang pergi bertemu dengan teman bisnisnya. Rara dan bule itu melakukan aksinya (yuhuuu! asyik). Mereka berpegang erat dengan penuh kemesraan. Lagi rayu merayu bak pangeran dan cinderela yang kehabisan bensin ditengah jalan (ngga nyambung, tapi tak apalah..).
Di waktu yang sama, Gilang kemudian bertemu dengan teman bisnisnya yang ternyata merupakan seorang perempuan (tenang pemirsa, ngga usah kesal dulu.Gilang itu setia kok'). Perempuan itu sangat ganjeng, berusaha menarik perhatian mulus Gilang. Dia melakukan hal demikian karena tertarik dengan lagu Justin Bieber dan suka menyanyikan lagunya (ngga nyambung? memang). Maksudnya, dia tertarik dengan sesuatu yang ada di saku Gilang,sesuatu yang menumpuk dan "uncountable" (tidak mengerti kata itu,cari Abah Google :-P). Perempuan yang diketahui bernama Sonya itu berjuang dengan keras mendapatkan hati Gilang. Ia bahkan membanting tulang, habis itu membanting jantung. Namun, karena kesetiaan Gilang pada Rara yang sudah tidakmampu diungkapkan dengan kata-kata yang bermakna akhirnya membuat ia tidaksedikitpun berpaling dari Rara. Ia pun tidak segang-segang menolak kerja sama dengan Sonya yang padahal itu adalah kerja sama terbesarnya yang dapat membuat perusahaanya semakin maju (Gila pemirsa,Gilang itu super setia banget. Jadi malu aku sebagai pengarang. Maaf sedikit curhat!). Kerja samanya dengan Sonya pun ia batalkan karena menolak permintaan Sonya untuk menjadi dambatan hatinya.
Di tempat yang berbeda, Rara dan bule itu masih saja bermesraan. Mereka saling berpegang tangan dengan mesra bak pangeran dan permaisuri yang kehabisan bensin di tengah jalan (ngga nymabung,tapi tak apalah). Kemesraan mereka tak terlampau lama karena Rara harus meninggalkan bule itu lagi dengan alasan kantor.
“I’m sorry honey, I have to go right now! Because I have a job in my office.” Ucap Rara menjelaskan maksud kepergiaannya.
“Never mind. Just call me later. This night!” Jawab bule itu sambil melempar senyum manisnya yang sebenarnya dari tadi asin itu.
Rara pun meninggalkan bule itu bersama yang diakui sebagai super pribadinya menuju ke kantor yang dimaksud (Tunggu dulu, pasti pemirsa bertanya-tanya, siapa sih nama bule itu? Baiklah, namanya Alexandro).
Supir pribadi yang dimaksud Rara ternyata merupakan korban selingkuhan (lain) darinya. Jadi, kalau disimpulkan dia bukan supir pribadi melainkanseorang pacar (gaswat! Playgirl bener!).
“Bubuh (nama panggilan sayang), siapa sih bule itu? Cipika-cipiki gitu. Aku kan cemburu!” Tanya selingkuhan Rara yang diakui sebagai supir pribadi dan namanya adalah Verik.
“Boboh (nama panggilan sayang juga), dia itu teman kerja aku kok. Wajar kali kalau bule itu cipika cipiki. Tidak usah marah gitu. Tenang, cuma kamu kok di hati aku.” Jelas Rara dengan perasaan yang sedikit grogi.
***
Malam akhirnya tiba,bulan yang sebelumnya bersembunyi dan sengaja menenggelamkan diri bermaksud menghargai matahari dalam menyinari dunia telah muncul bersama bintang yangbertebaran. Di rumah Gilang, ayah dan ibu Gilang, biar lebih mudah kita sebutsaja kedua orang Gilang memanggil anak tunggalnya (ayo tebak, siapa anak tunggalnya? Kalau tidak tau Anda tidak bolehmelanjutkan membaca) Pastinya Gilang. Mereka berkumpul di ruang keluargasedang rapat penting dalam membincangkan hal penting demi masa depan Gilang.Ternyata kedua orang tua Gilang telah menjodohkannya dengan sesosok perempuanyang menurut mereka tepat untuk Gilang. Perempuan yang cantik, sederajat aliassuper kaya, berasal dari kalangan bangsawan tentunya. Dengan tegas dan lantangGilang kemudian menolak perjodohan itu karena kesetiaannya pada Rara (sabar pemirsa, kita patut menghargaikesetiaan Gilang, dia itu tidak bodoh tapi bodoh banget).
“Pak, mak ,aku sangattidak setuju untuk dijodohin, ini sudah bukan jaman Siti Jubaidah kali. Akuudah nemuin cewek yang menurut aku paling cocok dan pantas buat aku nikahin.Dia itu Rara, anak tetangga jalan sebelah. Dia itu memang tidak kaya, tapi diacantik, anggun, super baik dan kalau melihatnya selalu mau muntah. Tapi ituyang membuat aku makin tertarik sama dia.” Jelas Gilang menolak dengan kerasbahkan lebih keras dari bongkahan batu yang baru di masak bibi tadi pagi.
Meski Gilang menolak,kedua orang tuanya masih bersih tegang untuk menjodohkan. Tapi karena Gilangtelah memiliki tekad yang baja atas kesetiaannya pada Rara, ia pun tidak kukuhuntuk menolak perjodohan itu. Kedua orang tua Gilang yang melihat kekuatan hatiGilang yang tak mudah ditaklukkan kemudian berkata bahwa jika Gilang tidaksetuju maka ia harus pergi dari rumah dan melepaskan semua barang-barang mewahpemberian orang tuanya. Tanpa pikir panjang. Gilang menyetujuinya dan ia relamelepaskan semua kehidupan mewahnya demi gadis yang dicintainya, Rara (sumpah, bodoh bener yah pemirsa).
Gilang pun keluar darirumahnya, melepaskan semuanya tapi tidak termasuk pakaiannya karena itu tidakboleh dilakukan (iih, pikirannya kotor!).Gilang dengan tetesan air mata yang mengambang kesana kemari menuju ke tempatRara. Sampainya tempat Rara, ia kemudian melihat lagi bule itu (udah tau kan namanya siapa?).
“Hi bro! What are youdoing here? Don’t you see this is my girlfriend’s place. Btw, why do you cry?”Kata bule itu dengan masih menggunakan logat Amerika yang kental sekental gula (perasaan gula tidak kental deh, nggapenting. Lanjutkan).
Gilang yang masihterlihat tegar, berusaha menyembunyikan air mata kepedihannya dan tanpameperdulikan bule itu. Rara yang saat itu ada di dalam rumah kemudian keluar.Ia melihat Gilang dengan wajah sedih melutut (kasiaaannnn).
“Sayang, apa yangterjadi? Kenapa wajahmu begitu terlihat sedih?” tanya Rara kepada Gilang dandengan jelas saat itu dia berada di dekat selingkuhan bule tapi karena tidakmengerti. Jadi tidak menjadi masalah.
“Kedua orang tuakumenjodohkan aku dengan wanita lain, tapi aku tolak dan aku memilih kamu. Namun, yang jadi masalah dia mengusir aku dansekarang aku jadi miskin tanpa kemewahan lagi.” jelas Gilang.
Mendengar penjelasanGilang, tiba-tiba Rara berkata bahwa itu adalah urusan Gilang dan sama sekalibukan urusannya. Dia sama sekali tidak peduli dengan masalah Gilang. Bahkan disaat itu juga dengan jelas yang menjelaskan bahwa bule itu adalah pacar dia.Dia memutuskan Gilang dengan sepihak karena alasan Gilang tidak keren lagi (cewek stres, betul-betul tidak punya hati,tapi tenang pemirsa ngga usah ikut emosi).
Disaat itu juga Gilang kemudian tambah histeris bahkan hampir pinsang dibuatnya. Dia tidak sadar bahwa selama ini dia hanya dijadikan mainan oleh Rara. Dia benar-benar kecewa. Rara dan bule itu pun masuk dalam rumah meninggalkan Gilang terpaku rapat di atas rumput menangis histeris. (cengeng amat).
Dalam waktu yang hampir bersamaan. Verik datang juga di tempat Rara. Dengan bingung Veri melihat Gilang menangis histeris di depan tempat Rara. Tapi ia mengabaikannya karena menganggap Gilang sebagai orang gila.
Verik pun menuju ke depan pintu tempat Rara, mengetok sebentar karena lama tidak dibuka ia kemudian menggedor-gedor pintu hingga seperti seorang maling kemalaman. Rara berdua dengan Si bule kemudian tampak di balik pintu itu, berpelukan erat. Verik dengan wajah geram memerah, panas membara ditabur bedak merica dan diaduk rata hingga mendidih (tuh kan, masak lagi).
"Bubuh? Apa yang kamu lakukan dengan bule ini? Hey, who are you? Why do you come here?" Tanya geram Verik kepada Rara dan Alexandro.
"I'm her boyfriend and who are you?" tangkas Alexandro marah.
"What? Bubuh, inikah yang kau namakan teman kerja itu? kita putus. And for you. she is my girlfriend also but now we are break." ucap Verik kemudian pergi meninggalkan Rara dan bule itu.
"Is it right? Honey, i want to break up now!, good bye!" Kata Alexandro dengan penuh kemarahan dan lanjut menampar pipi Rara yang katanya halus itu. Kemudian bule itu juga pergi.
Rara yang ditinggalkan dua cowok sekaligus karena kebodohannya sendiri. Kemudian ia masuk ke dalam kamar dan menangis dengan histeris. Sementara itu, Gilang masih saja menangis histeris.
_____________Selesai______________
Sumber: justangzealotous.blogspot.com
Apa kabar? Semoga baik, sehat dan selalu berada dalam tatapan yang sempurna. Aminnnnn..
Hari ini, dalam membuka pintu dunia yang sepertinya telah tertutup oleh jutaan mata yang sedang merasakan ke-GALAU-an. Aku akan menceritakan sebuah cerita (lumayan) pendek, sumpah! benar-benar pendek, ciyuusss.... Ingat! Setiap ada kalimat yang berada di dalam kurung => (___) berarti itu adalah kalimat lansung dari pengarang. Tunggu! Sudah pada tahu kan siapa pengarangnya? Jelas, pengarangnya adalah orang sudah dari tulisannya Anda baca :-D Orang yang insya Allah ganteng, cakep, tampan, beribawa, pintar, baik, soleh, rajin menabung dan tidak sombong (GubrakKKK).
Tanpa basa-basi lagi , sebelum pembacanya melarikan diri dan belum sempat membaca CERPEN ini, lansung saja kita pesan KTP, ehhh. maksudnya ke TKP. Let's go to story.....
Uuuppps,,,,, tunggu dulu! (apa lagi sih?) Cerpen ini adalah cerita billingual, jadi ada dua bahasa. Buat kalian yang kurang mengerti silahkan konsultasi lansung sama ABAH GOOGLE. Thanks..
Cinta = Air Mata
Kisah ini berawal dari seorang pasangan yang sedang memadu kasih (tenang! madunya masih madu asli). Sebut saja mereka adalah Rara dan Gilang (maaf,nama tidak disamarkan). Rara adalah gadis paling baik (semoga saja) tapi juga punya tipu muslihat yang super canggih, lebih canggih dari IPAD, I-PHONE atau saudara-saudaranya yang lain. Sedangkan Gilang adalah cowok tampan dan super tajir alias pengusaha paling kaya di kota itu (maaf, kota tidak disebutkan karena memungkinkan Anda untuk tertarik mengunjunginya) tapi dia juga agak bodoh, bahkan bodoh banget tapi super setia.
Rara dan Gilang sedang bercumbu mesra di sebuah taman bunga yang pasti banyak bunganya. Di tengah kemesraan mereka, tiba-tiba seorang bule yang kurang jelas keberadaanya itu datang dengan muka merah memanas. Gilang yang sementara sedang memegang tangan Rara dengan penuh kasih ditambah cuka dan diuleti dengansedikit bumbu pelengkap (loh, kok jadi kayak mau masak?). Bule itu lantas datang memisahkan mereka berdua.
"Woy, who are you? Why do you hold my girlfriend?" kata bule itu dengan logat Amerika-nya masih kental sambil melepaskan tangan Gilang yang tertempel rapi di atas tangan Rara.
"I don't know" balas Gilang yang sok mengerti perkataan bule itu."Sayang, siapa dia? datang ngga jelas lansung memisahkan kita. Lalu apalagi yang dikatakannya?" lanjut Gilang sembari bertanya kepada Rara.
"Tenang sayang, dia itu klien saya (tuh kan, bohong!)" Jawab Rara dengan lumayan penuh meyakinkan kata-katanya.
Saat itu, Gilang ingin mengurus bule itu dengan menghajarnya tapi karena tiba-tiba telponnya berdering dengan kencang yang hingga terdengar sampai bumi bagian selatan (wajar, telpon mahal kayaknya). Telpon itu berasal dari salah satu teman bisnisnya. Karena penting jadi dia harus datang untuk menemuinya.
"Sayang, nanti saya jelaskan semuanya. Cepat pergi, nanti teman kamu marah lagi" tangkas Rara.
Gilang pun meninggalkan Rara bersama bule yang diakui sebagai klien Rara. (Tenang pemirsa, ini masih awal belum klimaks, jadi ngga usah lebay).
Sementara Gilang pergi bertemu dengan teman bisnisnya. Rara dan bule itu melakukan aksinya (yuhuuu! asyik). Mereka berpegang erat dengan penuh kemesraan. Lagi rayu merayu bak pangeran dan cinderela yang kehabisan bensin ditengah jalan (ngga nyambung, tapi tak apalah..).
Di waktu yang sama, Gilang kemudian bertemu dengan teman bisnisnya yang ternyata merupakan seorang perempuan (tenang pemirsa, ngga usah kesal dulu.Gilang itu setia kok'). Perempuan itu sangat ganjeng, berusaha menarik perhatian mulus Gilang. Dia melakukan hal demikian karena tertarik dengan lagu Justin Bieber dan suka menyanyikan lagunya (ngga nyambung? memang). Maksudnya, dia tertarik dengan sesuatu yang ada di saku Gilang,sesuatu yang menumpuk dan "uncountable" (tidak mengerti kata itu,cari Abah Google :-P). Perempuan yang diketahui bernama Sonya itu berjuang dengan keras mendapatkan hati Gilang. Ia bahkan membanting tulang, habis itu membanting jantung. Namun, karena kesetiaan Gilang pada Rara yang sudah tidakmampu diungkapkan dengan kata-kata yang bermakna akhirnya membuat ia tidaksedikitpun berpaling dari Rara. Ia pun tidak segang-segang menolak kerja sama dengan Sonya yang padahal itu adalah kerja sama terbesarnya yang dapat membuat perusahaanya semakin maju (Gila pemirsa,Gilang itu super setia banget. Jadi malu aku sebagai pengarang. Maaf sedikit curhat!). Kerja samanya dengan Sonya pun ia batalkan karena menolak permintaan Sonya untuk menjadi dambatan hatinya.
Di tempat yang berbeda, Rara dan bule itu masih saja bermesraan. Mereka saling berpegang tangan dengan mesra bak pangeran dan permaisuri yang kehabisan bensin di tengah jalan (ngga nymabung,tapi tak apalah). Kemesraan mereka tak terlampau lama karena Rara harus meninggalkan bule itu lagi dengan alasan kantor.
“I’m sorry honey, I have to go right now! Because I have a job in my office.” Ucap Rara menjelaskan maksud kepergiaannya.
“Never mind. Just call me later. This night!” Jawab bule itu sambil melempar senyum manisnya yang sebenarnya dari tadi asin itu.
Rara pun meninggalkan bule itu bersama yang diakui sebagai super pribadinya menuju ke kantor yang dimaksud (Tunggu dulu, pasti pemirsa bertanya-tanya, siapa sih nama bule itu? Baiklah, namanya Alexandro).
Supir pribadi yang dimaksud Rara ternyata merupakan korban selingkuhan (lain) darinya. Jadi, kalau disimpulkan dia bukan supir pribadi melainkanseorang pacar (gaswat! Playgirl bener!).
“Bubuh (nama panggilan sayang), siapa sih bule itu? Cipika-cipiki gitu. Aku kan cemburu!” Tanya selingkuhan Rara yang diakui sebagai supir pribadi dan namanya adalah Verik.
“Boboh (nama panggilan sayang juga), dia itu teman kerja aku kok. Wajar kali kalau bule itu cipika cipiki. Tidak usah marah gitu. Tenang, cuma kamu kok di hati aku.” Jelas Rara dengan perasaan yang sedikit grogi.
***
Malam akhirnya tiba,bulan yang sebelumnya bersembunyi dan sengaja menenggelamkan diri bermaksud menghargai matahari dalam menyinari dunia telah muncul bersama bintang yangbertebaran. Di rumah Gilang, ayah dan ibu Gilang, biar lebih mudah kita sebutsaja kedua orang Gilang memanggil anak tunggalnya (ayo tebak, siapa anak tunggalnya? Kalau tidak tau Anda tidak bolehmelanjutkan membaca) Pastinya Gilang. Mereka berkumpul di ruang keluargasedang rapat penting dalam membincangkan hal penting demi masa depan Gilang.Ternyata kedua orang tua Gilang telah menjodohkannya dengan sesosok perempuanyang menurut mereka tepat untuk Gilang. Perempuan yang cantik, sederajat aliassuper kaya, berasal dari kalangan bangsawan tentunya. Dengan tegas dan lantangGilang kemudian menolak perjodohan itu karena kesetiaannya pada Rara (sabar pemirsa, kita patut menghargaikesetiaan Gilang, dia itu tidak bodoh tapi bodoh banget).
“Pak, mak ,aku sangattidak setuju untuk dijodohin, ini sudah bukan jaman Siti Jubaidah kali. Akuudah nemuin cewek yang menurut aku paling cocok dan pantas buat aku nikahin.Dia itu Rara, anak tetangga jalan sebelah. Dia itu memang tidak kaya, tapi diacantik, anggun, super baik dan kalau melihatnya selalu mau muntah. Tapi ituyang membuat aku makin tertarik sama dia.” Jelas Gilang menolak dengan kerasbahkan lebih keras dari bongkahan batu yang baru di masak bibi tadi pagi.
Meski Gilang menolak,kedua orang tuanya masih bersih tegang untuk menjodohkan. Tapi karena Gilangtelah memiliki tekad yang baja atas kesetiaannya pada Rara, ia pun tidak kukuhuntuk menolak perjodohan itu. Kedua orang tua Gilang yang melihat kekuatan hatiGilang yang tak mudah ditaklukkan kemudian berkata bahwa jika Gilang tidaksetuju maka ia harus pergi dari rumah dan melepaskan semua barang-barang mewahpemberian orang tuanya. Tanpa pikir panjang. Gilang menyetujuinya dan ia relamelepaskan semua kehidupan mewahnya demi gadis yang dicintainya, Rara (sumpah, bodoh bener yah pemirsa).
Gilang pun keluar darirumahnya, melepaskan semuanya tapi tidak termasuk pakaiannya karena itu tidakboleh dilakukan (iih, pikirannya kotor!).Gilang dengan tetesan air mata yang mengambang kesana kemari menuju ke tempatRara. Sampainya tempat Rara, ia kemudian melihat lagi bule itu (udah tau kan namanya siapa?).
“Hi bro! What are youdoing here? Don’t you see this is my girlfriend’s place. Btw, why do you cry?”Kata bule itu dengan masih menggunakan logat Amerika yang kental sekental gula (perasaan gula tidak kental deh, nggapenting. Lanjutkan).
Gilang yang masihterlihat tegar, berusaha menyembunyikan air mata kepedihannya dan tanpameperdulikan bule itu. Rara yang saat itu ada di dalam rumah kemudian keluar.Ia melihat Gilang dengan wajah sedih melutut (kasiaaannnn).
“Sayang, apa yangterjadi? Kenapa wajahmu begitu terlihat sedih?” tanya Rara kepada Gilang dandengan jelas saat itu dia berada di dekat selingkuhan bule tapi karena tidakmengerti. Jadi tidak menjadi masalah.
“Kedua orang tuakumenjodohkan aku dengan wanita lain, tapi aku tolak dan aku memilih kamu. Namun, yang jadi masalah dia mengusir aku dansekarang aku jadi miskin tanpa kemewahan lagi.” jelas Gilang.
Mendengar penjelasanGilang, tiba-tiba Rara berkata bahwa itu adalah urusan Gilang dan sama sekalibukan urusannya. Dia sama sekali tidak peduli dengan masalah Gilang. Bahkan disaat itu juga dengan jelas yang menjelaskan bahwa bule itu adalah pacar dia.Dia memutuskan Gilang dengan sepihak karena alasan Gilang tidak keren lagi (cewek stres, betul-betul tidak punya hati,tapi tenang pemirsa ngga usah ikut emosi).
Disaat itu juga Gilang kemudian tambah histeris bahkan hampir pinsang dibuatnya. Dia tidak sadar bahwa selama ini dia hanya dijadikan mainan oleh Rara. Dia benar-benar kecewa. Rara dan bule itu pun masuk dalam rumah meninggalkan Gilang terpaku rapat di atas rumput menangis histeris. (cengeng amat).
Dalam waktu yang hampir bersamaan. Verik datang juga di tempat Rara. Dengan bingung Veri melihat Gilang menangis histeris di depan tempat Rara. Tapi ia mengabaikannya karena menganggap Gilang sebagai orang gila.
Verik pun menuju ke depan pintu tempat Rara, mengetok sebentar karena lama tidak dibuka ia kemudian menggedor-gedor pintu hingga seperti seorang maling kemalaman. Rara berdua dengan Si bule kemudian tampak di balik pintu itu, berpelukan erat. Verik dengan wajah geram memerah, panas membara ditabur bedak merica dan diaduk rata hingga mendidih (tuh kan, masak lagi).
"Bubuh? Apa yang kamu lakukan dengan bule ini? Hey, who are you? Why do you come here?" Tanya geram Verik kepada Rara dan Alexandro.
"I'm her boyfriend and who are you?" tangkas Alexandro marah.
"What? Bubuh, inikah yang kau namakan teman kerja itu? kita putus. And for you. she is my girlfriend also but now we are break." ucap Verik kemudian pergi meninggalkan Rara dan bule itu.
"Is it right? Honey, i want to break up now!, good bye!" Kata Alexandro dengan penuh kemarahan dan lanjut menampar pipi Rara yang katanya halus itu. Kemudian bule itu juga pergi.
Rara yang ditinggalkan dua cowok sekaligus karena kebodohannya sendiri. Kemudian ia masuk ke dalam kamar dan menangis dengan histeris. Sementara itu, Gilang masih saja menangis histeris.
_____________Selesai______________
Sumber: justangzealotous.blogspot.com
Rabu, 09 Oktober 2013
Aku bukan sebutir pasir
"DIA
seperti malaikat di depan sahabat, teman, dan keluargaku. Kalimatnya
menye-nangkan orang-orang yang mendengarnya, tutur bahasanya sopan. Dia
selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan orang lain, dia memeluk dan
menciumku di depan umum. Semua orang menyangka kami adalah pasangan yang
berbahagia.
Meskipun
demikian, sahabat-sahabat kami juga maklum dengan gaya flamboyannya,
yang tidak pernah ketinggalan kata ‘sayang’, terutama pada
perempuan-perempuan yang diajaknya ngobrol. Mereka hanya mengata-kan,
“Yang penting, cintanya untuk kamu, Ta.” Mereka juga maklum jika banyak
perempuan yang rela meninggalkan rasa malunya untuk tetap mengajaknya
kencan, meskipun dia sudah bukan pria single lagi. Seharusnya, aku
berbahagia karena aku lah pilihannya.
Tapi,
tidak demikian. Jika kami hanya berdua, kata-katanya sangat sering
menusuk hatiku. Dia bisa seenaknya melempar mangkuk sayur yang kubuat
karena kurang garam. Atau melempar kemejanya ke wajahku jika kemejanya
masih ada beberapa bagian yang kusut. Atau mengatakan, “Bodoh banget sih
kamu!” Yang paling menyakitkan, “Badan kamu kurus banget kayak papan
penggilasan, bikin aku tidak nafsu sama kamu,” lalu dia membalikkan
badannya membelakangi aku. Betapa sakitnya hatiku.
Dia
tidak mau mencumbuku tidaklah mengapa, tapi tidak perlu dia tambahkan
kata-kata yang sangat tajam bagaikan silet. Bukankah aku sudah kurus
ketika dia melamarku untuk menjadi istrinya? Kemana saja dia selama ini?
Dan bagaimana aku bisa menambah lemak di tubuhku jika hatiku selalu
saja merasa tidak nyaman bersamanya. Bagaimana aku bisa tertawa bahagia
mendengar dia ngobrol dengan mesra dengan seorang teman perempuannya di
telepon atau memuji cantik banget sih kamu hari ini pada sekretarisnya
di kantornya, sementara aku di sampingnya. Aku bukan perempuan berhati
dewi. Aku cuma perempuan biasa, yang selalu cemburu dan tidak dapat
menerima kenyata-an bahwa dia dan aku bagaikan bumi dan langit.
Lima
tahun bersamanya, mungkin hanya tahun pertama saja aku merasakan
kebaha-giaan. Selebihnya, hanya hinaan dan cacian, dan kata-kata dia
sudah bosan sama aku. Namun…., dia begitu manis jika ada orang lain
bersama kami.
Aku
tidak tahu, terbuat dari apa hatinya. Kenapa dia sangat kasar dan tak
pernah menganggapku ada. Apakah aku terlalu kampungan dan tidak bisa
mengikuti gaya hidupnya? Bukankah dia sudah mengenalku dan ekonomi
keluargaku ketika dia menikahi-ku? Kemana saja dia selama ini?
Lima
tahun cukup buatku untuk mendampinginya. Aku tidak menganggapnya ini
sebagai pengorbanan. Seorang istri tidak seharusnya merasa berkorban.
Apa yang kulakukan selama ini sangat ikhlas, namun ada saatnya aku harus
keluar dari gua tempat aku berlindung untuk menjadi seorang yang
istimewa seperti mimpiku. Aku tidak tahu, apakah aku berani menghadapi
ini semua. Aku tidak ingin menjadi sebutir pasir…..
*****
DIA
seorang teman sefakultas yang sangat terkenal dan digilai gadis-gadis
manapun. Jangankan dari fakultasku yang kebanyakan gadis-gadis manis
dan lugu, melainkan juga dari fakultas sebelah, kedokteran gigi, yang
penuh gadis menawan dan atraktif.
Bram,
namanya. Jago ngeband, main basket, aktivis senat, pandai orasi, dan
seabrek kepandaian lainnya, yang membuat para gadis akan antre untuk
dapat kencan dengannya. Di kaca mobilnya selalu saja ada tempelan kertas
yang bertuliskan, “Hai, ntar malam jadi kan ke rumahku?” Kali yang
lain, “Hai Bram, kenalan dong. Aku tunggu ya jam 14.00 di kantin FKG.”
Kemudian, ada juga, ”I miss u, Beib. Kapan kita kencan lagi?” Uugh, mau
muntah rasanya aku membaca tulisan-tulisan itu. Kenapa sih tidak ada
harga diri sama sekali? Menurutku, yang kuper ini, tidak sepantasnya
para gadis mengejar laki-laki. Biar sudah mau mampus karena perasaan
cinta yang berlebihan, tetap saja tidak boleh berlaku seperti itu.
Teman-teman
menertawakan aku, “Denita sayang, sekarang mah sudah biasa perempuan
mengekspresikan rasa yang ada di hatinya. Sama aja kayak laki-laki.
Kalau tuh cowok senang juga, alhamdulillah, kalau nggak, ya cari lagi
yang lain….hehe…”
Tapi,
buatku, tabu untuk menyatakan lebih dulu. Mereka akan membuka
kacamataku dan mengatakan, ”Tata, kalau kacamatamu dilepas dan rambut
ikalmu tidak usah dike-pang terus, kamu tidak kalau lho sama Arfia.“
Arfia
adalah gadis paling ngetop di angkatanku, cantik, supel, cerdas, kaya,
dan segala kelebihan seorang perempuan ada pada dia. Subhanallah, begitu
besar karunia Allah pada Arfia. Dan Arfia jungkir balik mengejar Bram.
Bram, seperti biasa, tebar pesona. Kadang mau didekati, kadang cuek
bebek. Duh, Arfia, kamu kan bisa mencari orang lain yang juga tidak
kalah dengan Bram.
Di
tingkat dua, aku satu kelompok dengan Bram. Maaf saja, aku tidak
tertarik dengan cowok seperti dia. Biar banyak teman-teman sekelas
berusaha mencari perhatiannya, aku tetap saja menjadi si kutu kuper yang
selalu cum laude. Entah kenapa hatiku begitu dingin, karena aku merasa
bagaikan langit dan bumi antara aku dan dia.
Bram
ternyata terpesona dengan kepandaianku! Dia baru menyadari ada seorang
gadis bernama Denita di kelasnya, yang tidak pernah silau dengan
ketampanannya. Dan dia terus mendekatiku. Berpura-pura tidak mengerti
tentang satu pelajaran, dan minta aku menjelaskan.
Saat
aku menjelaskan hal-hal yang dia tidak mengerti, dia hanya memandangku
dan mengatakan, “Ternyata, kamu punya mata yang sangat indah.” Aku
langsung muak dan meninggalkannya. Satu saat, dia akan mengatakan, “Kamu
cantik sekali ternyata. Ketika kamu berbicara, burung-burung akan diam
dan semut pun berhenti berjalan beriringan untuk mendengarkan suaramu
yang indah.” Di saat yang berbeda, dia pura-pura menarik tanganku, “Ya
ampun, lembut sekali tanganmu, pasti hangat berada dalam genggamannya.”
Setiap saat selama dua tahun, selalu ada saja yang dipujinya. Hampir
tiap hari, dan tetap saja aku tidak menghiraukannya.
Tapi,
suatu saat Bram kecelakaan. Dia terbaring di RS dalam waktu yang lama.
Tiba-tiba, aku merasa kehilangan yang sangat. Dua tahun penuh dengan
pujian tiap hari. Tiba-tiba, satu minggu ini terasa sepi.
Tidak
ada yang mengejarku saat aku berlari pulang, dan mengatakan, “Denita,
kamu gimana, sih? Aku udah nunggu kamu dua jam! Dua jam bukan waktu yang
singkat untuk menunggu agar kamu mau aku antar pulang. Tapi, sekarang
malah lari mau pulang sendiri. Kamu pikir kamu siapa? Banyak gadis lain
yang ingin aku antar pulang,” teriak Bram marah.
Aku
menangis mendengarnya dan berkata pelan, “So what? Aku memang bukan
siapa-siapa, antar saja gadis-gadismu pulang. Aku tidak butuh
antaranmu.“ Dan aku pun berlari menuju bus kota yang sudah menunggu. Aku
melihat kekecewaan berpendar dari bola matamu, dari balik kaca bus
kota. Aku tidak tahu, apakah ini hanya trik Bram. Sebab, kamu tidak
berhasil mendapatkan sesuatu?
Dia
terkulai di pembaringan di kelas VIP RS sangat elite di Ibukota.
Kakinya masih ditraksi akibat patah tulang femur, karena kecelakaan
motor dalam rally yang diikutinya.
Aku
membezuknya sendiri, dan terharu melihat keadaannya. Maafkan aku, Bram,
jika selama ini tidak bersikap baik padamu, padahal kamu selalu baik.
Coklat yang sering kamu berikan, aku bagikan pada teman-teman. Bunga
yang pernah kamu sisipkan di rambutku, dengan cepat aku buang karena
tidak tahan dengan tawa teman-teman. Bahkan, aku tidak sanggup melihat
cahaya mata Arfia yang cemburu melihatmu mendekatiku.
“Denita,
tahukah kamu, kenapa aku kecelakaan?” Aku menggeleng di tepi tempat
tidur. “Karena aku selalu memikirkanmu setiap saat. Aku tidak bisa
menghilangkan bayanganmu dari diriku. Saat rally kemarin, tiba-tiba saja
aku teringat padamu. Aku melamun, tiba-tiba motorku sudah terjungkal,
dan aku tidak sadarkan diri. Tahu-tahu sudah di sini. Sialan kamu,
Tata!”
Aku
diam. Aku tidak tahu, apakah aku menyukainya? Tidak ada getaran yang
indah. Tidak ada rasa rindu dan menantikan esok segera datang. Tidak ada
suatu rasa yang membuatku ingin selalu bersamanya.
Apa
yang tidak layak dari Bram? semuanya begitu sempurna di dirinya. Wajah
rupawan, pandai bermain musik, aktivis kampus, juga kaya raya. Aku
seperti langit dan bumi dengannya.
“
Aku ingin sekali menghabiskan waktu-waktu di hidupku bersamamu. Aku
tidak pernah menemukan gadis yang punya karakter begitu kuat seperti
dirimu. Engkau tidak pernah tergoda dengan materi, padahal begitu banyak
gadis materialistis di sekelilingku. Engkau tidak pernah membalas
rayuan maupun godaanku. Ada apa sih dengan dirimu? Frigid banget, sih!
Aku jatuh cinta tau sama kamu!”
Aku kembali diam termangu. Jatuh cinta denganku? Ada apa dengan diriku?
“Denita…,” dia mencoba meraih tanganku.
Aku
memandangnya dengan haru, tapi aku tidak tahu apakah aku mempunyai rasa
yang sama dengan dirinya? Kehadirannya selalu kubatasi, kupagari
seluruh ruang hatiku agar aku tidak tertarik padanya. Aku tidak tahu,
apakah demi seorang Arfia? Atau karena aku tidak layak untuknya? Atau
karena masa lalu, masa kecilku? Suatu masa yang tidak mengenal arti
mencintai dan dicintai?
*****
AKU
anak pertama dari 6 bersaudara yang ditinggal pergi ayah sejak aku
berusia 14 tahun. Ayah pergi meninggalkan ibu, yang katanya tidak pernah
ayah cintai. Setiap bulan ayah selalu mengirimkan uang bulanan untuk
kami, tapi kehadirannya tidak pernah ada.
Kehadiran
jiwanya memang tidak pernah ada sejak aku kecil, saat aku mulai bisa
mengenali seorang ayah dan seorang ibu. Kehadiran fisik tidak selalu
mewakili kehadiran jiwa. Aku selalu melihat kesedihan di mata dan wajah
ibu. Padahal, mereka dulu menikah bukan karena paksaan seperti layaknya
zaman Siti Nurbaya. Mereka menikah atas kemauan sendiri. Tapi, kata ibu,
ayah lama-lama kehilangan cintanya pada ibu yang terlalu sibuk
mengurusi 6 anak.
Ibu
hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang tidak bisa mengambil
keputusan, tidak bekerja, jarang menambah ilmu karena terlalu sibuk
dengan kami anak-anaknya, dan pasrah saja ketika ayah pergi meninggalkan
kami. Kadang aku mendengar tangisnya di malam sunyi, saat orang-orang
terlelap, ketika ibu shalat tahajud dan menangis dalam doa kepada-Nya.
Kadang aku ikut menangis di tempat tidur kami, yang aku tempati dengan
tiga adikku. Dua adikku yang terkecil tidur dengan ibu.
Waktu
aku belum mengerti kenapa orang dewasa menangis, aku selalu heran,
kenapa bila malam tiba dan sunyi, ibu selalu menangis. Dan kenapa
lama-lama ayah makin jarang pulang? Padahal, ketika dia ada pun, dia
hanya asyik mengotak-atik mobil tuanya. Aku seperti tidak memiliki ayah
dan hanya memiliki separuh ibu. Aku tidak menyalahkan ibu, yang sibuk
mengurus adik-adikku.
Aku
tumbuh besar sendiri, menyadari arti perbuatan yang salah dan benar
berdasarkan hukuman di sekolah. Kalau aku dihukum, berarti aku salah.
Kalau tidak ada yang menghukum aku, berarti aku benar. Tidak ada pujian,
meskipun aku sering berbuat baik dan selalu juara kelas. Semuanya
berjalan biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Di rumah aku menjaga dan
mengajarkan adik-adikku tentang pelajaran yang tidak mereka mengerti
sehingga mereka tidak perlu ikut pelajaran tambahan atau les pada guru
mereka, yang akan menghabiskan uang ibu.
Kehidupanku
sangat sederhana. Aku tinggal di gang kecil yang hanya masuk satu
mobil. Rumah kami dan tetangga kami penuh kehangatan. Maksudnya, sangat
berjejal dan berdempet-dempetan. Aku bersyukur meski-pun cinta di antara
ayah dan ibu hilang, mereka tidak pernah berteriak-teriak dan saling
memaki, seperti yang sering aku dengar dari tetangga-tetangga di
sekitarku.
Tidak
pernah ada anak laki-laki yang menggodaku, seperti mereka menggoda
teman-temanku. Aku tidak cantik, semua di diriku sungguh sangat biasa.
Mataku bulat, namun jarang bersinar. Tubuhku kecoklatan dan tidak halus.
Aku adalah gadis yang tidak pernah percaya diri, kalau tidak mau
dibilang sangat rendah diri.
Aku
tidak tahu arti mencintai dan dicintai karena aku terlalu sibuk dengan
belajar dan belajar. Namun, aku bertekad akan menjadi seorang perempuan
yang istimewa, yang kehadiranku selalu dinantikan dan diharap-kan oleh
orang-orang di sekitarku, yang selalu dirindukan oleh teman-temanku
ketika aku tidak hadir.
Aku
tidak mau menjadi sebutir pasir di tepi pantai, yang akan terhembus
angin laut lalu hilang entah kemana. Kalaupun masih berserakan di tepi
pantai, tidak ada seorang pun yang bisa membedakan sebutir pasir dari
butiran pasir lainnya.
Dan
aku merasa menjadi perempuan yang istimewa ketika seorang Bram
melamarku. Aku merasa inilah saatnya keluar dari kese-dihanku, menemukan
orang yang mencintai-ku. Meskipun aku tetap tidak merasakan rasa dan
getaran yang indah bersamanya, dia adalah laki-laki pertama yang
mengatakan cinta dan melamarku. Aku merasa hidupku seperti di sinetron
dan dongeng, Cinderella menemukan pangerannya.
Tapi, ternyata…ini hanya awal dari penderitaan episode kedua…
*****
AKU
bertemu kembali dengannya setelah 15 tahun kami berpisah. Aku yang
pergi darinya, tidak ada kata cerai maupun surat cerai. Aku tidak mau
seperti ibuku yang ditinggalkan ayah. Aku mempunyai harga diri dan
berharap orang lain pun bisa menghargai aku.
Aku melihatnya tampak letih dan tua. Aku tidak tahu, masihkah dia mengenali aku?
Setelah
pergi darinya, aku melanjutkan spesialisasi kedokteran jiwa, mungkin
lebih tepatnya untuk mengobati diriku sendiri yang kadang penuh
kecemasan dan paranoid. Dalam waktu 10 tahun terakhir, karierku
meningkat dengan cepat. Aku, yang lebih senang mendengar daripada
berbicara, rupanya disukai oleh pasien-pasienku dan keluarga
pasien-pasienku. Bahkan, yang seharusnya tidak memerlukan terapiku, rela
antre di luar kamar praktekku. Ternyata, begitu banyak manusia yang
perlu di-support atau sekadar disugesti bahwa dia tidak seperti yang dia
pikirkan, atau keluarganya tidak seperti yang dia pikirkan.
Bram terbaring di pembaringan kelas VIP, wajahnya kurus dan pucat.
Aku mendekati pembaringannya. Perjalanan panjang 12 jam melewati darat, laut, dan udara kutempuh setelah berita itu tiba.
Seorang
wanita tiba-tiba mengetuk pintu rumahku, di suatu pulau nun jauh di
Indone-sia timur. Aku memilih untuk melanjutkan hidupku di Ternate
karena masih ada saudara ibu yang tinggal di sana.
Perjalanan
karierku lumayan pesat di sini. Aku tidak saja praktek di beberapa RS,
melainkan juga menjadi dosen terbang di beberapa universitas di
Indonesia timur.
Aku
tidak lagi sekurus papan penggilasan. Tubuhku mulai berisi karena aku
sungguh menikmati hidupku. Baru kurasakan, betapa indahnya tidak menjadi
sebutir pasir. Kini, wajahku mulai berseri dan mataku kembali
tersenyum hangat. Banyak yang memuji kecantikanku dan mengatakan aku
memiliki inner beauty.
Banyak
pula yang mencoba melamarku, dari pejabat daerah, teman sejawat dokter,
hingga beberapa laki-laki yang mapan. Aku selalu menolaknya secara
halus karena aku tidak menemukan cinta itu. Aku hanya mengenang satu
tahun pertama dalam pernikahanku yang kurasakan indah, saat aku mulai
merasakan benih-benih cinta. Tapi, Bram kembali menghancurkannya.
Wanita
yang mengetuk pintu rumahku adalah seorang wanita cantik dan modis,
namun tampak tidak berbahagia. Dia memperkenalkan diri sebagai istri
terakhir Bram. Dia menikah baru empat tahun dengan Bram, setelah
sebelumnya Bram tiga kali kawin dan cerai, termasuk denganku. Meski
begitu, kami tidak pernah bercerai secara hukum, secara agama sudah
pasti.
Bram
sakit dalam dua tahun terakhir ini. Dia menderita kanker prostat.
Sebulan ter-akhir kondisinya semakin parah. Dari sering marah-marah,
sekarang hanya menangis dan mengeluh tiap hari.
“Dia
sering memanggil namamu, dr Deni-ta, dan menangis dalam tidurnya, lalu
memo-hon maaf padamu. Aku tidak tahu di mana harus mencarimu.
Bagaimanapun, dia suami-ku, meskipun kadang sikapnya menyebalkan. Aku
tidak mau dia menderita di akhir hidup-nya. Aku jarang mengurusnya, aku
lebih sering bepergian dengan teman-temanku.
Suatu
saat, dia menangis dan mengatakan, bahwa dia sadar, dengan petualangan
panjangnya, akhirnya hanya ada satu wanita yang pernah membuatnya jatuh
bangun mencintai wanita itu, namun dia tidak menjaganya dengan baik.
Tidak mengajarinya untuk mencintai…..”
Aku meneteskan air mataku….
Aku teringat suratku di hari ulang tahun-nya, tahun pertama dalam pernikahan kami…
“Detik demi detik yang telah kita lewati
Detik demi detik yang kini kita jalani…
Detik demi detik yang akan kita hadapi…
Harapku selalu penuh warna indah, merekatkan batin penuh cinta…
Ajari aku untuk mencintaimu, kekasih..”
Kemudian,
masa indah itu pun berlalu, membawa luka sehingga sempat terlontar doa,
“Aku tidak akan memaafkannya, sampai dia bersujud di kakiku….”
Betapa
beratnya kebencian yang kubawa, betapa beratnya beban yang harus
kutang-gung seumur hidupku dengan membawa dendam yang tidak selesai….
“Dia
berkata, bahwa dia menikahimu bukan akibat kekasihnya selingkuh dengan
temannya, tapi karena dia sungguh-sungguh mencintaimu…. Tapi, entah
bisikan dari mana yang selalu membuatmu merasakan bahwa dirimu hanya
pelampiasan sesaat…,” ujar wanita yang mengaku bernama Norma itu.
Dia
melanjutkan, “Kamu tahu, aku mencoba mencari informasi tentang dirimu
dan aku merasa mengenalmu lebih dekat. Seseorang yang kosong, menemukan
cinta, namun terluka…… Betapa tragisnya hidup kalian… yang satu pergi
dengan membawa luka akibat cinta…., sementara yang satunya lagi
berkeliaran dari wanita satu ke wanita lain mencoba mencari cinta.
Padahal, ada satu cinta yang tidak pernah dijaga dan diberi rasa…. yang
terlantar, kering, dan membusuk..” Aku semakin tersedu mendengar-nya…
“Pulanglah…dan maafkanlah dia…”
*****
DAN sekarang aku di sini….
Menatapnya, yang lemah dan tidak berdaya, pucat, kurus…
Kemana
wajah tampanmu yang dulu kau banggakan? Kemana tubuh gagahmu yang
selalu membuat para wanita berlutut memohon cintamu. Kemana suara indah
dan rayuan mautmu, yang membuat gadis-gadis terbang melayang….
Kita
hanya manusia biasa, yang mempunyai waktu terbatas di dunia ini, yang
hanya mempunyai satu kesempatan untuk menjadi manusia yang baik dan
penuh cinta….
Aku
memegang tangannya lembut. “Aku sudah memaafkanmu, kekasih…..Aku sudah
ikhlas atas semua yang terjadi di antara kita….,” bisikku di telinganya.
Dia membuka matanya perlahan, ada tetesan bening di sana…..
Mata
itu mengungkapkan banyak kata yang tidak terucap. Bibirnya pucat,
dingin, dan beku saat kusentuh. Kami hanya saling menatap dalam diam….
Bibirnya bergerak, berusaha mengucapkan satu kalimat……, ”Maafkan aku, Denita…”
Sumber: http://botefilia.com
Jumat, 23 Agustus 2013
Cerpen Cinta: TERNYATA KAMU
Oleh: Mentari Senja - Hari ini aku dan Shinta akan menjemputmu di
Bandara, sepuluh tahun sudah kita tak berjumpa. Setelah keluargamu
pindah, aku dan Shinta hanya bisa merindukanmu. Sepuluh tahun kami
jalani hidup berdua tanpa dirimu, tanpa kebersamaan dan tanpa
kegilaanmu. Kami sangat merindukanmu, terkhusus untukku.
“duh lama banget ya ri...mana sih Radit katanya dateng jam 10.00. ini dah jam 10.00 lewat tapi belum nongol juga tuh batang hidungnya.”shinta melirik jam warna pink ditangannya sambil terus mencari-cari sosok seorang Radit. Terlihat kegelisahan diraut wajah cantiknya.
“ sabar lah Shin, bentar lagi juga nyampe. Mungkin emang agak telat paling pesawatnya. Ya udah kita tunggu aja disini.”aku mencoba menenangkan Shinta, walau aku sendiri juga agak gelisah.
“eh...ri kira-kira Radit curiga ga ya. Kalau selama ini yang sering bales e-mail dia bukan aku. Apa dia masih suka sama aku.”shinta jadi gelisah sendiri, dia takut Radit kecewa kalau selama ini bukan Shinta yang ngbales semua e-mail dari Radit.
“udahlah tenang Shin, Radit ga bakal tau ko. Lagian kan walaupun aku yang bales tuh e-mail radit, tetep aja aku pake nama kamu. Jadi kamu tenang aja deh. Dan dari semua e-mail yang dia kirim, aku yakin dia masih suka sama kamu,”shinta agak sedikit tenang setelah mendengar penjelasanku.
“thanks ya riri, kamu emang sahabat yang baik. Kamu tau sendiri kan aku paling males kalo suruh ngebales e-mail. Aku ga suka diem dikamar Cuma buat mantengin laptop. Mendingan shopping, hehehehe. Tapi untunglah ada kamu, jadi aku selalu tau keadaan Radit. Dan yang paling penting aku tau kalo Radit masih suka sama aku.”shinta senyum-senyum sendiri membayangkan Radit.
Aku cuma tersenyum melihat sahabatku ini, walaupun ada sedikit rasa sedih. Karena selama ini aku juga memendam perasaan pada Radit. Selama sepuluh tahun ini aku dan Radit memang masih sering berkomunikasi, tapi komunikasi ini hanya kepura-puraan. Radit menyangka kalau yang ngebales semua e-mailnya adalah Shinta, perempuan yang dari dulu dia kagumi.
Setelah tiga puluh menit lamanya kami menunggu Radit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Radit datang juga. Perasaanku mulai berdebar-debar, membayangkan bagaimana Radit sekarang. Apakah dia akan mengenaliku, taukah dia kalau selama ini aku lah yang selalu menemani malam-malamnya lewat dunia maya. Apakah Radit juga merasakan apa yang aku rasa. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaanku tentang Radit. Semoga dia tidak berubah.
“jantungku deg-degan ri, kira-kira sekarang Radit seperti apa ya. Aku ga sabar neh. Duh mana ya Radit.”dengan mengangkat papan nama bertuliskan Radit, Shinta mencoba mencari sang pujaan hati.
“shin, mungkin itu dia Radit. Lihat lelaki itu, dia datang kearah kita, pasti itu Radit.”aku menunjuk kearah lelaki tinggi memakai jaket jeans biru.
“sepertinya iya, wah keren juga ya Radit sekarang. Aku jadi makin suka deh”
Lelaki berjaket jeans itu semakin mendekat, dia melambaikan tangannya menandakan bahwa memang benar dia adalah Radit. Akhirnya ketemu juga dengan Radit, Radit kini sudah menjadi sosok lelaki dewasa.
“hallo princess, apa kabarmu...”Radit mendekatkan diri pada Shinta, menyapa Shinta dengan sebutan yang biasa dia ucapkan padaku saat didunia maya.
Princess ??so sweet, Radit romantis sekali padahal baru saja ketemu Shinta hanya berdiam diri, dalam hati shinta berkata-kata siapa yang Radit sebut dengan Princess, tapi itu ga terlalu penting bagi Shinta. Shinta tak memperdulikan Radit akan memanggilnya apa. Yang dia rasakan hanya senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Radit.
“hallo Princess, kenapa nglamun aja. Terpesona ya ngliat aku yang ganteng. Hahahahaha.” kata Radit karena melihat Shinta yang bengong
“hey siapa juga yang terpesona, aku hanya ga habis fikir aja bisa ketemu lagi sama cowok jelek kaya kamu,hehehehe.”shinta dan Radit terlihat semakin akrab. Kulihat mereka berdua sangat cocok, apalagi mereka berdua saling suka.
Aku hanya bisa berdiam diri melihat keakraban antara Radit dan Shinta. Ternyata Radit tak mengenaliku, dia masih mengira bahwa Shintalah yang menjadi teman dunia mayanya. Sedikit rasa kecewa terpendam dihati, karena apa yang kuharapkan ternyata tak sesuai hati.
“ehemm... udah dulu dong kangen-kangenannya, sampe lupa ada orang disampingnya.” aku mencoba mencairkan suasana.
“hai nona manis, maaf aku lupa. Apa kabarmu sekarang ? apa kegiatanmu, jangan kaya Shinta ya yang sukanya ngenet sampe malem.”Radit melirik Shinta. Menggoda Shinta dengan lirikannya.
“kabarku baik. aku juga suka ngenet ko Dit, sama kaya Shinta.”jawabku sambil ku lirik juga Shinta
“wah ternyata kamu sama Shinta punya hobby yang sama ya, baguslah kalau gitu. Kita semua jadi kompak. heheheh, Eh ngomong-ngomong kamu punya e-mail ga?”tanya Radit kepadaku
“aku punya, kapan – kapan aku kasih tau kamu. Oke sekarang kita pulang yuk ga enak kelamaan disini bisa jamuran kita.hehehehe.” aku dan Shinta saling berpandanngan, aku tau Shinta ingin berbicara kalau jangan sampai Radit tau yang sebenarnya.
Akhirnya kami bertiga pulang, menuju kediaman Radit yang kebetulan tak jauh dari rumahku dan Shinta. Kami bertiga tinggal dalam satu komplek yang sama.
“woi nona manis, lari pagi yuk. Ajak Shinta juga ya.” teriak Radit dari bawah, ternyata Radit sudah siap untuk berolahraga pagi.
“hai....sudah lama disitu, oke deh bentar lagi aku keluar. Aku call shinta dulu ya.” jawabku
“shin, cepet bangun Radit ngajak jogging neh. Oke cepetan bangun, aku dan Radit nunggu kamu didepan rumah.”kututup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Shinta, segera kubersiap untuk jogging.
“sudah call Shinta,” tanya Radit setelah melihatku keluar dari pintu.
“yapz, udah. Kita langsung tunggu didepan rumahnya. Ayo berangkat.” ajaku pada Radit.
“oke. Ayo.”
Jarak rumahku dan Shinta tak begitu jauh, jadi tak butuh waktu lama buatku dan Radit sampai dirumah Shinta. Pagi ini Shinta terlihat begitu cantik. T-shirt pink dipadu dengan celana Panjang warna putih terkesan machting dengan kulit Shinta yang putih. Dan hal ini membuat Radit semakin terpesona.
“hello, my princess, you are beautiful.” Radit menyapa Shinta dengan kata-kata romantis, ini membuatku sedikit sedih. Karena bukan aku yang dia sapa, melainkan Shinta yang tak tau apa-apa.
“hallo juga cowok jelek, hehehehe.” Shinta menjawab sekenanya.
“ayo kita berangkat.” ajaku
“Oke.” radit dan Shinta masih saling berpandangan.
Setelah lima belas menit jogging akhirnya kita semua memutuskan untuk beristirahat sejenak di taman. Disebuah bangku panjang bercat putih, dipayungi pohon yang rindang sangat tepat untuk tempat beristirahat. Dikanan kiri terdapat beberapa pedagang makanan dan minuman, tempat ini memang biasa untuk orang-orang lari pagi jadi wajar kalau banyak juga pedagang yang menyediakan makanan ataupun minuman.
Tiga botol teh dingin, serta tiga mangkok bubur ayam menjadi santapan pagi kita setelah lelah berolahraga. Suasana kali ini sungguh menyenangkan. Terlihat ada kumpulan anak-anak yang sedang berlari-lari kecil dengan suara tawanya yang riang, hal ini mengingatkanku tentang sesuatu. Terbayang waktu dulu saat kami semua bersama. Masa-masa kecil yang selalu kami lewati dengan berbagai canda dan tawa. Radit yang super iseng, Shinta dengan kemanjaan dan kecentilannya, sedang aku yang pendiam. Walaupun dengan berbeda karakter tapi kami semua tetap bisa bersatu. Sampai saat inipun kami bertiga masih akrab.
Fikiranku pun melayang saat kuingat kali pertama Radit membuatku kagum padanya, Radit datang membelaku saat aku dihadang oleh anak – anak lelaki yang bandel disekolah seberang. Radit mencoba melindungiku, dia berusaha agar aku tidak terluka. Ketika itu Radit berkelahi dengan anak-anak itu, walaupun radit terluka juga tapi Radit berhasil mengusir anak-anak bendel itu. Dan saat itu aku merasakan kagum pada seorang Radit, bagiku dia adalah dewa penolong, dia juga teman penghiburku saat aku merasa sedih. Hingga saat ini kekaguman itu masih terjaga.
“hei... nona... ngapain nglamun.”sapaan Radit menyadarkanku dari lamunan. Radit memang biasa memanggilku dengan sebutan nona. Itu sebutan saat masih kecil.
“ohh...ga apa-apa ko. Cuma lagi menikmati alam, hehehe.” jawabku seraya memandang sekitar
“balik yuk, cape neh.” ajak Shinta
“oke Princess,” jawab Radit. Sekali lagi aku dan Shinta hanya saling berpandangan.
“emangnya kenapa, yang aku liat sih, kayanya dia masih percaya deh.” aku melihat kearah Shinta
“iya ri, sekarang aku ga yakin kalo Radit masih percaya, soalnya sering banget kalo dia ngobrol sama aku dan kebanyakan obrolannya itu ga nyambung. Dia sering cerita tentang dunia maya, tentang buku love story, tentang bakso yang katanya makanan kesukaanku. Padahal kamu tau sendiri kan ri kalo aku ga suka bakso. Apalagi tentang lovestory. Aku jadi bingung harus jawab apa sama Radit.”shinta telihat bingung, dia terus mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. Sampai mie ayam kesukaanya tidak sempat dia makan.
“udah lah shin, aku yakin dia masih percaya.”jawabku mencoba menenangkan. Aku hanya bisa diam, memikirkan Radit. Ternyata Radit masih hafal tentang kebiasaanku, tentang love story, tentang bakso, itu semua memang tentangku. Kabiasaanku berbalas e-mail dengan Radit membawa ketidaksengajaanku untuk mengungkapkan semua kebiasaan dan kesukaanku. Aku tak sadar bahwa kebiasaanku dan Shinta sungguh jauh berbeda. Yang ku tau saat itu hanya rasa nyaman saat bisa berbagi cerita dengan Radit, walaupun hanya lewat dunia maya.
Suasana kampus masih ramai, banyak mahasiswa berlalu lalang. Dari mahasiswa yang masih punya jam kuliah sampai yang hanya Cuma ingin menikmati suasana taman dikampus. kebetulan aku dan shinta sudah tak ada jam kuliah. Kami menghabiskan waktu dikantin kampus. Kami berdua hanyut dalam lamunan masing-masing, walaupun tertuju pada satu khayalan, yaitu Radit.
“Ri, aku sudah putuskan untuk menceritakan yang sebenarnya sama Radit. Aku ga mau terus – terusan bohong. Aku juga ga mau terus berpura-pura tau tentang semua obrolannya. Aku ingin mencintai Radit dengan diriku sendiri, bukan apa yang Radit ceritakan. Gimana menurutmu ri.” tiba-tiba saja Shinta berbicara padaku,
“kalau menurutku, jangan dulu shin. Ini bukan waktu yang tepat. Biarlah dia tau dengan sendirinya. Lagian kalau dia emang sayang sama kamu, pasti dia bisa menerima kamu dengan apa adanya. Ya udahlah shin jangan terlalu difikirkan.”
“gitu ya ri, hmmm ya udahlah mungkin Cuma perasaanku aja. Thanks ya ri, kamu baik banget. Kamu juga selalu membantuku. Thanks sob.”Shinta memelukku erat, ada kelegaan yang kulihat.
“iya shin, sama-sama. Balik yuk.”
“hmm oke,”
“hei juga, lagi duduk-duduk aja neh, sambil baca buku.”jawabku sambil mempersilahkan Radit duduk.
“wah hoby baca juga ya kamu, lagi baca buku apa, coba aku liat.”
“love story, novel kesukaanku, ceritanya begitu romantis aku suka.”aku menyodorkan buku novelnya kepada Radit.
“Love Story???ko bisa kebetulan ya, aneh....”jawab Radit sedikit bingung sambil terus melihat buku novel itu
“Aneh kenapa.?”tanyaku sedikit ragu
“ya aneh, aku juga suka banget sama novel itu. Shinta juga suka, dia sering ngabahas novel ini di e-mail tapi kenapa ya saat aku tanya langsung sama dia kemaren dia seolah ga pernah tau tentang love story.dan juga saat aku panggil dia princess dia ga ngebales manggil aku pangeran. Aneh kan.”Radit mulai curiga dengan Shinta.
Aku langsung buru-buru mengambil novel itu dari Radit, aku ga mau Radit tau keadaan yang sebenarnya. Sambil bersiap pamit pulang aku berbicara.
“mungkin Shinta ingin ngetes kamu, apa dia masih ingat atau ga sama kebiasaannya.” jawabku sembari meninggalkan Radit. Saat itu kulihat Radit bingung. Sebenarnya Radit ingin bertanya banyak tentang Shinta padaku tapi aku keburu pergi.
“Ri...aku sudah tau semuanya.”suara Radit tiba-tiba mengagetkanku.
Ternyata Radit sudah dari tadi ada dibelakangku. Aku bingung apa yang Radit katakan barusan, apa yang dia tau. Atau jangan-jangan.....tapi tidak mungkin, dari mana dia tau. Shinta ???? batinku mulai bertanya-tanya.
“hei dit, sudah lama kamu disini?”tanyaku agak sedikit gugup
“aku tau ri, aku sudah tau. Lebih baik kamu jujur padaku.”radit mencoba mendesakku
“maksud kamu apa dit, aku ga ngerti deh. Apa yang kamu tau.”jawabku seolah tidak tau apa-apa. Persaaanku semakin gugup dan gelisah, aku takut Radit memang sudah mengetahui semuanya. Aku takut mengecewakan Shinta.
“aku tau bukan Shinta yang ngebales semua e-mailku, bukan shinta yang selama ini menemaniku. Tapi itu semua kamu ri. Kamu Mentari az zahra, yang selalu ngebales e-mailku. iya kan ri, jawablah.” Radit mendesakku.
Aku hanya terdiam, aku tak tau harus berbicara apa. Ternyata radit sudah tau semua. Tapi dari mana dia tau, bukankah Shinta sudah tidak berniat lagi untuk menceritakan hal ini.
“dari mana kamu menganggap kalau semua ini aku yang lakukan,.” kataku mencoba menyangkal
“semua bukti udah jelas ri, love story, dunia maya, bakso kesukaanmu, dan lagu tadi. Apa itu ga cukup jelas buat aku tau semuanya.” Radit terlihat kecewa.
“maaf dit, bukan maksudku membohongimu, ini semua karena Shinta. Shinta yang menyuruhku melakukan semua ini. Awalnya aku berniat untuk menghentikannya, tapi ternyata aku ga bisa, karena aku merasa nyaman saat aku bisa berbagi denganmu.” jawabku dengan suara parau, airmataku menetes.”maaf dit, bukan maksudku menghancurkan hubungan kalian, anggap saja ini semua tak pernah terjadi. Kembalilah pada shinta seolah memang dia yang selama ini kamu kenal bukan aku.”
“kenapa kamu ga mau jujur dari awal kita ketemu ri, aku kecewa sama kamu dan Shinta.”
“saat itu aku berniat untuk jujur, tapi waktu pertama kita ketemu kamu sudah lebih dulu mengenali Shinta dengan “princessmu” itu. Bukan aku yang kamu kenal. Sejak saat itu ku urungkan niatku.” kutatap wajah Radit sekilas lalu balik berpaling memandang bunga mawar yang tumbuh indah disamping taman.
“maafkan aku ri, aku ternyata tidak mengenalimu, aku ga memahamimu saat itu. Tapi ri, sampai kapanpun aku masih nyaman dengan princessku itu dan itu kamu, bukan Shinta.” Radit menggenggam tanganku, menatapku tajam.
“maksud kamu..??? bukankah kamu cinta sama Shinta?”tanyaku heran pada Radit
“aku memang suka sama Shinta, tetapi aku sadar bahwa rasa sukaku dengan shinta hanya sekedar rasa suka semata. Ternyata yang aku cintai bukan shinta, tapi princess, princess yang selalu menemaniku, princess dengan love storynya, dan itu kamu. Saat aku bersamamu aku merasa nyaman, seolah aku sedang berbicara dengan princess. Dan sekarang aku tau bahwa memang benar apa yang kurasakan, kamu adalah princessku. Aku mencintaimu ri.” kata Radit
“tapi dit, bagaimana dengan Shinta, mana mungkin aku harus menghancurkan hati Shinta. aku merasa tidak enak hati apabila Shinta tau semua ini.”kulepaskan genggaman tangan ku dari tangan Radit
“aku tau ri, tapi aku juga ga mau terus-terusan membohongi shinta. Jujur selama ini aku kurang nyaman saat bersamanya. Banyak ketidakcocokan yang aku rasakan. Tidak seperti saat bersamamu.” terang Radit.
Aku begitu bingung, dilema rasanya. Disatu sisi aku merasa bahagia karena Radit juga ternyata mencintaiku tapi disisi lain rasa bersalah kepada shinta bersarang. Bagaimana perasaan shinta saat dia harus tau semua ini. Apakah harus kurelakan Radit untuk Shinta, atau kuterima cinta Radit ini. Semua ini terasa ga adil, aku ga mau hanya karena masalah cinta persahabatan ini hancur.
“terimalah cinta Radit, ri..... jangan kecewakan dia. Aku tau dia cinta kamu.” suara Shinta tiba-tiba mengagetkan kami berdua. Ternyata shinta mendengar pembicaraan kami dari belakang.
“maaf Shin, bukan maksudku kaya gini.” kataku meyakinkan Shinta. Kuhapus airmataku dan kujauhi Radit.
“tenang Shin, aku ga kan marah ko sama kamu. Justru aku bahagia karena akhirnya semua ini bisa terjawab dengan sendirinya. Aku tak perlu lagi berbicara yang sebenarnya kepada radit. Dan tentang perasaanku sama Radit, sama halnya seperti Radit ternyata aku hanya mengagumi Radit. Tapi tak bisa untuk menyelaminya. Kami berdua ga cocok. Terlalu banyak perbedaan yang ada pada kita, dan sekarang aku relakan Radit menjadi milikmu karena aku tau kamulah yang terbaik buat Radit.” Shinta tersenyum dan menghampiriku. Shinta memelukku menyatakkan kebahagiaannya.
“makasih Shin, aku ga tau harus ngomong apa sama kamu.” aku merasa bahagia dengan penuturan Shinta, ternyata shinta ga marah. Dan semuanya jelas sudah.
“Mentari Az Zahra....maukah kamu menjadi pacarku...?” tiba-tiba radit bersimpuh didepanku dengan memberikan bunga mawar merah.
Dengan hati yang berbunga-bunga serta senyum yang terus mengembang dari bibirku. Ku jawab pertanyaan Radit itu.
“Radit Bagas Pramandha, aku bersedia menjadi pacarmu.” ku ambil mawar merah yang dipegang Radit sebagai tanda penerimaan.
“terima kasih princess...” Radit langsung memelukku
“sama-sama pangeran.”senyumku berkembang
Shinta yang melihat kami hanya tersenyum dan menggoda kami.
“ehem udah dulu dong berpelukannya, jadi iri neh. Hehehehe,”shinta menggoda kami.
Ternyata persahabatan ini masih terus berjalan, walau kini aku dan Radit resmi berpacaran tapi hal ini ga mengubah kebersamaan kami. Aku, Radit dan Shinta pun berpelukan. Kami habiskan waktu malam ini bertiga, memandang bintang dilangit yang bersinar indah.
Akhirnya love story ini berakhir indah. Sang pangeran kini telah menemukan princess. Tak ada lagi keraguan di hati sang pangeran. Dunia ini seakan berbunga-bunga, keindahan menghampiriku karena cinta yang kupendam kini tlah terpaut sempurna. Dan ternyata kamu........... I LOVE U RADIT..........................
“duh lama banget ya ri...mana sih Radit katanya dateng jam 10.00. ini dah jam 10.00 lewat tapi belum nongol juga tuh batang hidungnya.”shinta melirik jam warna pink ditangannya sambil terus mencari-cari sosok seorang Radit. Terlihat kegelisahan diraut wajah cantiknya.
“ sabar lah Shin, bentar lagi juga nyampe. Mungkin emang agak telat paling pesawatnya. Ya udah kita tunggu aja disini.”aku mencoba menenangkan Shinta, walau aku sendiri juga agak gelisah.
“eh...ri kira-kira Radit curiga ga ya. Kalau selama ini yang sering bales e-mail dia bukan aku. Apa dia masih suka sama aku.”shinta jadi gelisah sendiri, dia takut Radit kecewa kalau selama ini bukan Shinta yang ngbales semua e-mail dari Radit.
“udahlah tenang Shin, Radit ga bakal tau ko. Lagian kan walaupun aku yang bales tuh e-mail radit, tetep aja aku pake nama kamu. Jadi kamu tenang aja deh. Dan dari semua e-mail yang dia kirim, aku yakin dia masih suka sama kamu,”shinta agak sedikit tenang setelah mendengar penjelasanku.
“thanks ya riri, kamu emang sahabat yang baik. Kamu tau sendiri kan aku paling males kalo suruh ngebales e-mail. Aku ga suka diem dikamar Cuma buat mantengin laptop. Mendingan shopping, hehehehe. Tapi untunglah ada kamu, jadi aku selalu tau keadaan Radit. Dan yang paling penting aku tau kalo Radit masih suka sama aku.”shinta senyum-senyum sendiri membayangkan Radit.
Aku cuma tersenyum melihat sahabatku ini, walaupun ada sedikit rasa sedih. Karena selama ini aku juga memendam perasaan pada Radit. Selama sepuluh tahun ini aku dan Radit memang masih sering berkomunikasi, tapi komunikasi ini hanya kepura-puraan. Radit menyangka kalau yang ngebales semua e-mailnya adalah Shinta, perempuan yang dari dulu dia kagumi.
Setelah tiga puluh menit lamanya kami menunggu Radit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Radit datang juga. Perasaanku mulai berdebar-debar, membayangkan bagaimana Radit sekarang. Apakah dia akan mengenaliku, taukah dia kalau selama ini aku lah yang selalu menemani malam-malamnya lewat dunia maya. Apakah Radit juga merasakan apa yang aku rasa. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaanku tentang Radit. Semoga dia tidak berubah.
“jantungku deg-degan ri, kira-kira sekarang Radit seperti apa ya. Aku ga sabar neh. Duh mana ya Radit.”dengan mengangkat papan nama bertuliskan Radit, Shinta mencoba mencari sang pujaan hati.
“shin, mungkin itu dia Radit. Lihat lelaki itu, dia datang kearah kita, pasti itu Radit.”aku menunjuk kearah lelaki tinggi memakai jaket jeans biru.
“sepertinya iya, wah keren juga ya Radit sekarang. Aku jadi makin suka deh”
Lelaki berjaket jeans itu semakin mendekat, dia melambaikan tangannya menandakan bahwa memang benar dia adalah Radit. Akhirnya ketemu juga dengan Radit, Radit kini sudah menjadi sosok lelaki dewasa.
“hallo princess, apa kabarmu...”Radit mendekatkan diri pada Shinta, menyapa Shinta dengan sebutan yang biasa dia ucapkan padaku saat didunia maya.
Princess ??so sweet, Radit romantis sekali padahal baru saja ketemu Shinta hanya berdiam diri, dalam hati shinta berkata-kata siapa yang Radit sebut dengan Princess, tapi itu ga terlalu penting bagi Shinta. Shinta tak memperdulikan Radit akan memanggilnya apa. Yang dia rasakan hanya senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Radit.
“hallo Princess, kenapa nglamun aja. Terpesona ya ngliat aku yang ganteng. Hahahahaha.” kata Radit karena melihat Shinta yang bengong
“hey siapa juga yang terpesona, aku hanya ga habis fikir aja bisa ketemu lagi sama cowok jelek kaya kamu,hehehehe.”shinta dan Radit terlihat semakin akrab. Kulihat mereka berdua sangat cocok, apalagi mereka berdua saling suka.
Aku hanya bisa berdiam diri melihat keakraban antara Radit dan Shinta. Ternyata Radit tak mengenaliku, dia masih mengira bahwa Shintalah yang menjadi teman dunia mayanya. Sedikit rasa kecewa terpendam dihati, karena apa yang kuharapkan ternyata tak sesuai hati.
“ehemm... udah dulu dong kangen-kangenannya, sampe lupa ada orang disampingnya.” aku mencoba mencairkan suasana.
“hai nona manis, maaf aku lupa. Apa kabarmu sekarang ? apa kegiatanmu, jangan kaya Shinta ya yang sukanya ngenet sampe malem.”Radit melirik Shinta. Menggoda Shinta dengan lirikannya.
“kabarku baik. aku juga suka ngenet ko Dit, sama kaya Shinta.”jawabku sambil ku lirik juga Shinta
“wah ternyata kamu sama Shinta punya hobby yang sama ya, baguslah kalau gitu. Kita semua jadi kompak. heheheh, Eh ngomong-ngomong kamu punya e-mail ga?”tanya Radit kepadaku
“aku punya, kapan – kapan aku kasih tau kamu. Oke sekarang kita pulang yuk ga enak kelamaan disini bisa jamuran kita.hehehehe.” aku dan Shinta saling berpandanngan, aku tau Shinta ingin berbicara kalau jangan sampai Radit tau yang sebenarnya.
Akhirnya kami bertiga pulang, menuju kediaman Radit yang kebetulan tak jauh dari rumahku dan Shinta. Kami bertiga tinggal dalam satu komplek yang sama.
****************
Pagi ini sungguh cerah, udara pagi yang sejuk ditemani hangatnya sinar
mentari pagi. Daun-daun dengan tetesan embun menyapa rerumputan yang
basah karena tetesan embun. Burung camar berkicauan menyanyikan kidung
indah tentang pagi. Dari jendela kamarku dilantai dua, aku merasakan
sejuknya angin pagi. Dan tanpa kusadari tenyata Radit telah berada
dibawah.“woi nona manis, lari pagi yuk. Ajak Shinta juga ya.” teriak Radit dari bawah, ternyata Radit sudah siap untuk berolahraga pagi.
“hai....sudah lama disitu, oke deh bentar lagi aku keluar. Aku call shinta dulu ya.” jawabku
“shin, cepet bangun Radit ngajak jogging neh. Oke cepetan bangun, aku dan Radit nunggu kamu didepan rumah.”kututup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Shinta, segera kubersiap untuk jogging.
“sudah call Shinta,” tanya Radit setelah melihatku keluar dari pintu.
“yapz, udah. Kita langsung tunggu didepan rumahnya. Ayo berangkat.” ajaku pada Radit.
“oke. Ayo.”
Jarak rumahku dan Shinta tak begitu jauh, jadi tak butuh waktu lama buatku dan Radit sampai dirumah Shinta. Pagi ini Shinta terlihat begitu cantik. T-shirt pink dipadu dengan celana Panjang warna putih terkesan machting dengan kulit Shinta yang putih. Dan hal ini membuat Radit semakin terpesona.
“hello, my princess, you are beautiful.” Radit menyapa Shinta dengan kata-kata romantis, ini membuatku sedikit sedih. Karena bukan aku yang dia sapa, melainkan Shinta yang tak tau apa-apa.
“hallo juga cowok jelek, hehehehe.” Shinta menjawab sekenanya.
“ayo kita berangkat.” ajaku
“Oke.” radit dan Shinta masih saling berpandangan.
Setelah lima belas menit jogging akhirnya kita semua memutuskan untuk beristirahat sejenak di taman. Disebuah bangku panjang bercat putih, dipayungi pohon yang rindang sangat tepat untuk tempat beristirahat. Dikanan kiri terdapat beberapa pedagang makanan dan minuman, tempat ini memang biasa untuk orang-orang lari pagi jadi wajar kalau banyak juga pedagang yang menyediakan makanan ataupun minuman.
Tiga botol teh dingin, serta tiga mangkok bubur ayam menjadi santapan pagi kita setelah lelah berolahraga. Suasana kali ini sungguh menyenangkan. Terlihat ada kumpulan anak-anak yang sedang berlari-lari kecil dengan suara tawanya yang riang, hal ini mengingatkanku tentang sesuatu. Terbayang waktu dulu saat kami semua bersama. Masa-masa kecil yang selalu kami lewati dengan berbagai canda dan tawa. Radit yang super iseng, Shinta dengan kemanjaan dan kecentilannya, sedang aku yang pendiam. Walaupun dengan berbeda karakter tapi kami semua tetap bisa bersatu. Sampai saat inipun kami bertiga masih akrab.
Fikiranku pun melayang saat kuingat kali pertama Radit membuatku kagum padanya, Radit datang membelaku saat aku dihadang oleh anak – anak lelaki yang bandel disekolah seberang. Radit mencoba melindungiku, dia berusaha agar aku tidak terluka. Ketika itu Radit berkelahi dengan anak-anak itu, walaupun radit terluka juga tapi Radit berhasil mengusir anak-anak bendel itu. Dan saat itu aku merasakan kagum pada seorang Radit, bagiku dia adalah dewa penolong, dia juga teman penghiburku saat aku merasa sedih. Hingga saat ini kekaguman itu masih terjaga.
“hei... nona... ngapain nglamun.”sapaan Radit menyadarkanku dari lamunan. Radit memang biasa memanggilku dengan sebutan nona. Itu sebutan saat masih kecil.
“ohh...ga apa-apa ko. Cuma lagi menikmati alam, hehehe.” jawabku seraya memandang sekitar
“balik yuk, cape neh.” ajak Shinta
“oke Princess,” jawab Radit. Sekali lagi aku dan Shinta hanya saling berpandangan.
*********
“eh ri, kira-kira Radit masih percaya ga ya kalau aku yang sering balez e-mail dia dulu.” tanya shinta padaku“emangnya kenapa, yang aku liat sih, kayanya dia masih percaya deh.” aku melihat kearah Shinta
“iya ri, sekarang aku ga yakin kalo Radit masih percaya, soalnya sering banget kalo dia ngobrol sama aku dan kebanyakan obrolannya itu ga nyambung. Dia sering cerita tentang dunia maya, tentang buku love story, tentang bakso yang katanya makanan kesukaanku. Padahal kamu tau sendiri kan ri kalo aku ga suka bakso. Apalagi tentang lovestory. Aku jadi bingung harus jawab apa sama Radit.”shinta telihat bingung, dia terus mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. Sampai mie ayam kesukaanya tidak sempat dia makan.
“udah lah shin, aku yakin dia masih percaya.”jawabku mencoba menenangkan. Aku hanya bisa diam, memikirkan Radit. Ternyata Radit masih hafal tentang kebiasaanku, tentang love story, tentang bakso, itu semua memang tentangku. Kabiasaanku berbalas e-mail dengan Radit membawa ketidaksengajaanku untuk mengungkapkan semua kebiasaan dan kesukaanku. Aku tak sadar bahwa kebiasaanku dan Shinta sungguh jauh berbeda. Yang ku tau saat itu hanya rasa nyaman saat bisa berbagi cerita dengan Radit, walaupun hanya lewat dunia maya.
Suasana kampus masih ramai, banyak mahasiswa berlalu lalang. Dari mahasiswa yang masih punya jam kuliah sampai yang hanya Cuma ingin menikmati suasana taman dikampus. kebetulan aku dan shinta sudah tak ada jam kuliah. Kami menghabiskan waktu dikantin kampus. Kami berdua hanyut dalam lamunan masing-masing, walaupun tertuju pada satu khayalan, yaitu Radit.
“Ri, aku sudah putuskan untuk menceritakan yang sebenarnya sama Radit. Aku ga mau terus – terusan bohong. Aku juga ga mau terus berpura-pura tau tentang semua obrolannya. Aku ingin mencintai Radit dengan diriku sendiri, bukan apa yang Radit ceritakan. Gimana menurutmu ri.” tiba-tiba saja Shinta berbicara padaku,
“kalau menurutku, jangan dulu shin. Ini bukan waktu yang tepat. Biarlah dia tau dengan sendirinya. Lagian kalau dia emang sayang sama kamu, pasti dia bisa menerima kamu dengan apa adanya. Ya udahlah shin jangan terlalu difikirkan.”
“gitu ya ri, hmmm ya udahlah mungkin Cuma perasaanku aja. Thanks ya ri, kamu baik banget. Kamu juga selalu membantuku. Thanks sob.”Shinta memelukku erat, ada kelegaan yang kulihat.
“iya shin, sama-sama. Balik yuk.”
“hmm oke,”
*********
“hei nona, lagi ngapain disini.”Radit menghampiriku saat aku berada ditaman sendiri. “hei juga, lagi duduk-duduk aja neh, sambil baca buku.”jawabku sambil mempersilahkan Radit duduk.
“wah hoby baca juga ya kamu, lagi baca buku apa, coba aku liat.”
“love story, novel kesukaanku, ceritanya begitu romantis aku suka.”aku menyodorkan buku novelnya kepada Radit.
“Love Story???ko bisa kebetulan ya, aneh....”jawab Radit sedikit bingung sambil terus melihat buku novel itu
“Aneh kenapa.?”tanyaku sedikit ragu
“ya aneh, aku juga suka banget sama novel itu. Shinta juga suka, dia sering ngabahas novel ini di e-mail tapi kenapa ya saat aku tanya langsung sama dia kemaren dia seolah ga pernah tau tentang love story.dan juga saat aku panggil dia princess dia ga ngebales manggil aku pangeran. Aneh kan.”Radit mulai curiga dengan Shinta.
Aku langsung buru-buru mengambil novel itu dari Radit, aku ga mau Radit tau keadaan yang sebenarnya. Sambil bersiap pamit pulang aku berbicara.
“mungkin Shinta ingin ngetes kamu, apa dia masih ingat atau ga sama kebiasaannya.” jawabku sembari meninggalkan Radit. Saat itu kulihat Radit bingung. Sebenarnya Radit ingin bertanya banyak tentang Shinta padaku tapi aku keburu pergi.
Radit, mungkinkah kamu tau bahwa itu semua adalah aku. Akulah yang kau kira Shinta, akulah yang selalu berbagi cerita tentang lovestory. aKu lah yang memanggilmu pangeran, dan aku lah princessmu. Semua itu aku yang lakukan. Maafkan aku Radit, bukan maksudku membohongimu, ini semua demi Shinta. Aku tau kamu cinta Shinta, begitu juga Shinta. Mana mungkin aku harus menghancurkan hubungan kalian. Lebih baik aku yang sakit.Semenjak kejadian ditaman aku sedikit menghindari Radit, aku takut Radit bertanya macam-macam lagi. Jadi sebisa mungkin kuhindari suasana berdua dengan Radit. Kecuali saat ada Shinta, seolah memang tak terjadi apa-apa.
**********
Kunyanyikan lagu kesukaanku saat kusendiri ditaman, lagu ini sangat berarti karena lgu ini mengingatkanku pada seseorang yang sangat ku sayang siapa lagi kalau bukan Radit. Aku dan radit sangat kenal betul dengan lagu ini, karena sangat sering aku memutar lagu ini ketika dunia maya menjadi jembatan untuk aku berbagi cerita, begitu juga dengan Radit. Lagu ini adalah lagu kita bersama. Tanpa terasa airmataku menetes, ada perasaan sedih saat harus aku tau kenyataan bahwa Radit tidak mengenaliku. Dia masih saja mengira bahwa Shinta lah yang selama ini bersamanya di tiap malam.Kau adalah darahkuKau dalah jantungkuKau adalah hidupkuLengkapi diriku, oh sayangku kau begitu sempurna...........
“Ri...aku sudah tau semuanya.”suara Radit tiba-tiba mengagetkanku.
Ternyata Radit sudah dari tadi ada dibelakangku. Aku bingung apa yang Radit katakan barusan, apa yang dia tau. Atau jangan-jangan.....tapi tidak mungkin, dari mana dia tau. Shinta ???? batinku mulai bertanya-tanya.
“hei dit, sudah lama kamu disini?”tanyaku agak sedikit gugup
“aku tau ri, aku sudah tau. Lebih baik kamu jujur padaku.”radit mencoba mendesakku
“maksud kamu apa dit, aku ga ngerti deh. Apa yang kamu tau.”jawabku seolah tidak tau apa-apa. Persaaanku semakin gugup dan gelisah, aku takut Radit memang sudah mengetahui semuanya. Aku takut mengecewakan Shinta.
“aku tau bukan Shinta yang ngebales semua e-mailku, bukan shinta yang selama ini menemaniku. Tapi itu semua kamu ri. Kamu Mentari az zahra, yang selalu ngebales e-mailku. iya kan ri, jawablah.” Radit mendesakku.
Aku hanya terdiam, aku tak tau harus berbicara apa. Ternyata radit sudah tau semua. Tapi dari mana dia tau, bukankah Shinta sudah tidak berniat lagi untuk menceritakan hal ini.
“dari mana kamu menganggap kalau semua ini aku yang lakukan,.” kataku mencoba menyangkal
“semua bukti udah jelas ri, love story, dunia maya, bakso kesukaanmu, dan lagu tadi. Apa itu ga cukup jelas buat aku tau semuanya.” Radit terlihat kecewa.
“maaf dit, bukan maksudku membohongimu, ini semua karena Shinta. Shinta yang menyuruhku melakukan semua ini. Awalnya aku berniat untuk menghentikannya, tapi ternyata aku ga bisa, karena aku merasa nyaman saat aku bisa berbagi denganmu.” jawabku dengan suara parau, airmataku menetes.”maaf dit, bukan maksudku menghancurkan hubungan kalian, anggap saja ini semua tak pernah terjadi. Kembalilah pada shinta seolah memang dia yang selama ini kamu kenal bukan aku.”
“kenapa kamu ga mau jujur dari awal kita ketemu ri, aku kecewa sama kamu dan Shinta.”
“saat itu aku berniat untuk jujur, tapi waktu pertama kita ketemu kamu sudah lebih dulu mengenali Shinta dengan “princessmu” itu. Bukan aku yang kamu kenal. Sejak saat itu ku urungkan niatku.” kutatap wajah Radit sekilas lalu balik berpaling memandang bunga mawar yang tumbuh indah disamping taman.
“maafkan aku ri, aku ternyata tidak mengenalimu, aku ga memahamimu saat itu. Tapi ri, sampai kapanpun aku masih nyaman dengan princessku itu dan itu kamu, bukan Shinta.” Radit menggenggam tanganku, menatapku tajam.
“maksud kamu..??? bukankah kamu cinta sama Shinta?”tanyaku heran pada Radit
“aku memang suka sama Shinta, tetapi aku sadar bahwa rasa sukaku dengan shinta hanya sekedar rasa suka semata. Ternyata yang aku cintai bukan shinta, tapi princess, princess yang selalu menemaniku, princess dengan love storynya, dan itu kamu. Saat aku bersamamu aku merasa nyaman, seolah aku sedang berbicara dengan princess. Dan sekarang aku tau bahwa memang benar apa yang kurasakan, kamu adalah princessku. Aku mencintaimu ri.” kata Radit
“tapi dit, bagaimana dengan Shinta, mana mungkin aku harus menghancurkan hati Shinta. aku merasa tidak enak hati apabila Shinta tau semua ini.”kulepaskan genggaman tangan ku dari tangan Radit
“aku tau ri, tapi aku juga ga mau terus-terusan membohongi shinta. Jujur selama ini aku kurang nyaman saat bersamanya. Banyak ketidakcocokan yang aku rasakan. Tidak seperti saat bersamamu.” terang Radit.
Aku begitu bingung, dilema rasanya. Disatu sisi aku merasa bahagia karena Radit juga ternyata mencintaiku tapi disisi lain rasa bersalah kepada shinta bersarang. Bagaimana perasaan shinta saat dia harus tau semua ini. Apakah harus kurelakan Radit untuk Shinta, atau kuterima cinta Radit ini. Semua ini terasa ga adil, aku ga mau hanya karena masalah cinta persahabatan ini hancur.
“terimalah cinta Radit, ri..... jangan kecewakan dia. Aku tau dia cinta kamu.” suara Shinta tiba-tiba mengagetkan kami berdua. Ternyata shinta mendengar pembicaraan kami dari belakang.
“maaf Shin, bukan maksudku kaya gini.” kataku meyakinkan Shinta. Kuhapus airmataku dan kujauhi Radit.
“tenang Shin, aku ga kan marah ko sama kamu. Justru aku bahagia karena akhirnya semua ini bisa terjawab dengan sendirinya. Aku tak perlu lagi berbicara yang sebenarnya kepada radit. Dan tentang perasaanku sama Radit, sama halnya seperti Radit ternyata aku hanya mengagumi Radit. Tapi tak bisa untuk menyelaminya. Kami berdua ga cocok. Terlalu banyak perbedaan yang ada pada kita, dan sekarang aku relakan Radit menjadi milikmu karena aku tau kamulah yang terbaik buat Radit.” Shinta tersenyum dan menghampiriku. Shinta memelukku menyatakkan kebahagiaannya.
“makasih Shin, aku ga tau harus ngomong apa sama kamu.” aku merasa bahagia dengan penuturan Shinta, ternyata shinta ga marah. Dan semuanya jelas sudah.
“Mentari Az Zahra....maukah kamu menjadi pacarku...?” tiba-tiba radit bersimpuh didepanku dengan memberikan bunga mawar merah.
Dengan hati yang berbunga-bunga serta senyum yang terus mengembang dari bibirku. Ku jawab pertanyaan Radit itu.
“Radit Bagas Pramandha, aku bersedia menjadi pacarmu.” ku ambil mawar merah yang dipegang Radit sebagai tanda penerimaan.
“terima kasih princess...” Radit langsung memelukku
“sama-sama pangeran.”senyumku berkembang
Shinta yang melihat kami hanya tersenyum dan menggoda kami.
“ehem udah dulu dong berpelukannya, jadi iri neh. Hehehehe,”shinta menggoda kami.
Ternyata persahabatan ini masih terus berjalan, walau kini aku dan Radit resmi berpacaran tapi hal ini ga mengubah kebersamaan kami. Aku, Radit dan Shinta pun berpelukan. Kami habiskan waktu malam ini bertiga, memandang bintang dilangit yang bersinar indah.
Akhirnya love story ini berakhir indah. Sang pangeran kini telah menemukan princess. Tak ada lagi keraguan di hati sang pangeran. Dunia ini seakan berbunga-bunga, keindahan menghampiriku karena cinta yang kupendam kini tlah terpaut sempurna. Dan ternyata kamu........... I LOVE U RADIT..........................
THE END...................
Sumber: http://cerpen.gen22.net
Langganan:
Postingan (Atom)




